Mengenal Phubbing, Kebiasaan Mengabaikan Orang karena HP
- Rita Puspita Sari
- •
- 6 jam yang lalu
Ilustrasi Phubbing
Di era ketika ponsel menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, ada satu kebiasaan yang mungkin terlihat sederhana tetapi dapat memengaruhi kualitas hubungan sosial, yakni phubbing. Istilah ini menggambarkan perilaku seseorang yang lebih memilih memperhatikan ponsel daripada orang yang sedang berada di hadapannya.
Phubbing merupakan gabungan dari kata phone dan snubbing, yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai tindakan mengabaikan orang lain karena terlalu fokus menggunakan ponsel. Seseorang mungkin hanya bermaksud memeriksa pesan, melihat notifikasi, membuka media sosial, atau menjawab panggilan. Namun, ketika kebiasaan tersebut dilakukan berulang kali saat sedang berinteraksi, orang di sekitarnya dapat merasa tidak dihargai.
Fenomena ini semakin mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Di meja makan, misalnya, seseorang dapat melihat anggota keluarga sibuk dengan ponsel. Dalam pertemuan dengan teman, percakapan terkadang terhenti karena salah satu pihak terus memeriksa layar. Bahkan dalam lingkungan kerja, perhatian terhadap ponsel dapat membuat komunikasi langsung menjadi kurang efektif.
Apa Itu Phubbing?
Phubbing adalah perilaku mengabaikan atau mengurangi perhatian kepada orang lain karena seseorang lebih sibuk menggunakan ponsel. Perilaku tersebut dapat terjadi dalam berbagai situasi, mulai dari percakapan santai, makan bersama, pertemuan keluarga, hingga interaksi profesional.
Istilah phubbing pertama kali diperkenalkan pada 2012 melalui kampanye yang melibatkan biro iklan Australia. Istilah tersebut kemudian berkembang dan digunakan untuk menggambarkan fenomena sosial yang muncul seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar.
Pada dasarnya, menggunakan ponsel bukanlah masalah. Ponsel merupakan perangkat penting untuk berkomunikasi, bekerja, mencari informasi, belajar, hingga mendapatkan hiburan. Masalah muncul ketika penggunaan perangkat tersebut membuat seseorang kehilangan perhatian terhadap orang yang sedang berinteraksi dengannya.
Misalnya, seseorang sedang berbicara kepada temannya. Namun, lawan bicaranya justru berkali-kali membuka layar ponsel, membaca notifikasi, membalas pesan, atau menggulir media sosial. Walaupun tidak ada perkataan yang secara langsung menunjukkan penolakan, perilaku tersebut dapat memberikan pesan bahwa ponsel dianggap lebih penting daripada percakapan yang sedang berlangsung.
Karena itu, phubbing bukan hanya persoalan penggunaan teknologi, melainkan juga berkaitan dengan etika komunikasi dan kualitas hubungan antarmanusia.
Mengapa Seseorang Melakukan Phubbing?
Phubbing dapat terjadi karena berbagai alasan. Salah satunya adalah tingginya ketergantungan terhadap ponsel dan media sosial. Berbagai aplikasi dirancang untuk membuat pengguna terus kembali, baik melalui notifikasi, pesan, konten baru, maupun rekomendasi yang terus diperbarui.
Kebiasaan memeriksa ponsel juga dapat terbentuk secara perlahan. Pada awalnya, seseorang mungkin hanya melihat ponsel ketika menerima notifikasi. Lama-kelamaan, ia mulai memeriksa layar meskipun tidak ada pemberitahuan baru.
Faktor lain adalah FOMO atau fear of missing out, yaitu perasaan takut tertinggal informasi, percakapan, tren, atau aktivitas yang sedang berlangsung di dunia digital. Orang yang mengalami FOMO dapat merasa harus selalu mengetahui apa yang terjadi di media sosial atau aplikasi komunikasi.
Selain itu, terdapat istilah nomophobia yang merujuk pada rasa takut atau kecemasan ketika seseorang tidak dapat mengakses atau menggunakan ponselnya. Kondisi ini dapat membuat seseorang merasa perlu membawa dan memeriksa ponsel hampir setiap saat.
Kurangnya kontrol diri juga dapat memperkuat kebiasaan tersebut. Ketika seseorang sudah terbiasa mendapatkan hiburan dan informasi secara instan dari ponsel, menahan keinginan untuk memeriksa layar saat sedang berbicara dengan orang lain bisa menjadi tantangan.
Tanda-Tanda Seseorang Melakukan Phubbing
Phubbing tidak selalu terlihat dalam bentuk penggunaan ponsel secara berlebihan. Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat menjadi tanda bahwa seseorang mulai mengabaikan lingkungan sekitarnya karena perangkat digital.
Salah satunya adalah selalu meletakkan ponsel di atas meja ketika sedang makan bersama orang lain. Ponsel tersebut mungkin tidak digunakan secara terus-menerus, tetapi keberadaannya membuat perhatian seseorang mudah teralihkan setiap kali layar menyala atau muncul notifikasi.
Tanda lainnya adalah sering memeriksa ponsel di tengah percakapan. Seseorang mungkin mengatakan hanya ingin melihat satu pesan, tetapi kemudian berlanjut membuka aplikasi lain dan menghabiskan waktu cukup lama.
Phubbing juga dapat terlihat ketika seseorang menjalankan dua percakapan secara bersamaan. Ia berbicara dengan orang yang berada di hadapannya, tetapi pada saat yang sama sibuk melakukan percakapan melalui pesan atau panggilan telepon.
Kebiasaan membawa ponsel ke mana pun dan merasa harus selalu memeriksa layar juga patut diperhatikan. Jika seseorang sulit melepaskan perhatian dari ponsel bahkan ketika sedang menghabiskan waktu berkualitas dengan keluarga, pasangan, teman, atau kolega, kebiasaan tersebut dapat mengarah pada perilaku phubbing.
Dampak Phubbing terhadap Hubungan Sosial
Salah satu dampak paling jelas dari phubbing adalah menurunnya kualitas hubungan dengan orang lain. Ketika seseorang merasa terus-menerus diabaikan, ia dapat menganggap dirinya tidak penting bagi lawan bicara. Dalam hubungan pertemanan, misalnya, phubbing dapat membuat percakapan terasa hambar. Teman yang sedang bercerita mungkin merasa tidak didengarkan karena lawan bicaranya sibuk menatap layar.
Dalam hubungan keluarga, kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi kualitas waktu bersama. Momen makan malam yang seharusnya menjadi kesempatan untuk berbicara dan bertukar cerita justru berubah menjadi aktivitas yang masing-masing sibuk dengan perangkat.
Pada hubungan romantis, dampaknya dapat menjadi lebih besar. Pasangan yang sering diabaikan karena ponsel dapat merasa kurang diperhatikan, tidak dihargai, atau bahkan menganggap pasangannya lebih tertarik pada dunia digital daripada hubungan mereka.
Masalah yang awalnya terlihat kecil dapat berkembang menjadi konflik jika terjadi terus-menerus. Ketika komunikasi berkurang, kesalahpahaman lebih mudah terjadi. Perasaan kecewa yang tidak dibicarakan juga dapat menumpuk dan akhirnya memengaruhi kepercayaan dalam hubungan.
Phubbing dan Kesehatan Mental
Dampak phubbing tidak hanya dirasakan oleh orang yang melakukannya, tetapi juga oleh orang yang menjadi sasaran perilaku tersebut. Seseorang yang sering diabaikan ketika sedang berbicara dapat merasa ditolak, dikucilkan, atau tidak dianggap penting.
Jika pengalaman tersebut terjadi berulang kali, perasaan tidak dihargai dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Dalam konteks tertentu, pengalaman sosial yang negatif juga dapat berkontribusi terhadap munculnya stres, kecemasan, kesepian, atau masalah emosional lainnya.
Di sisi lain, orang yang melakukan phubbing juga dapat terjebak dalam pola penggunaan ponsel yang sulit dikendalikan. Semakin sering seseorang menggunakan ponsel sebagai sumber hiburan, informasi, atau interaksi sosial, semakin besar kemungkinan ia merasa terdorong untuk terus memeriksa perangkat tersebut.
Situasi ini menciptakan sebuah lingkaran. Seseorang melakukan phubbing kepada orang lain, kemudian orang yang merasa diabaikan dapat mengambil ponselnya sendiri untuk mengalihkan perhatian. Akhirnya, kedua pihak sama-sama sibuk dengan perangkat masing-masing dan interaksi langsung semakin berkurang.
Mengapa Phubbing Bisa Menular?
Salah satu hal menarik dari phubbing adalah perilaku ini dapat berkembang menjadi pola sosial. Ketika seseorang sedang berbicara tetapi melihat lawan bicaranya sibuk dengan ponsel, ia mungkin merasa tidak perlu memberikan perhatian penuh.
Sebagai bentuk respons, orang tersebut dapat mengambil ponselnya sendiri. Akhirnya, kedua orang yang awalnya ingin berinteraksi justru sama-sama fokus pada layar. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan ponsel saat berinteraksi tidak hanya menjadi persoalan individu. Lingkungan sosial juga dapat memengaruhi perilaku seseorang.
Karena itu, mengurangi phubbing membutuhkan kesadaran dari semua pihak. Jika satu orang berusaha memberikan perhatian penuh tetapi orang lain terus menggunakan ponsel, kebiasaan tersebut akan lebih sulit dihentikan.
Cara Menghentikan Kebiasaan Phubbing
Menghentikan phubbing tidak harus dilakukan secara drastis. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu seseorang membangun kembali kebiasaan berkomunikasi tanpa gangguan ponsel.
- Simpan Ponsel Saat Sedang Berinteraksi
Cara paling sederhana adalah menjauhkan ponsel dari jangkauan ketika sedang berbicara dengan orang lain. Ponsel dapat disimpan di dalam tas atau diletakkan di tempat yang tidak mudah terlihat. Langkah ini membantu mengurangi godaan untuk memeriksa layar setiap beberapa menit. Selain itu, tindakan menyimpan ponsel juga menunjukkan kepada lawan bicara bahwa percakapan tersebut mendapatkan perhatian penuh. -
Terapkan Aturan Bebas Ponsel
Buat aturan sederhana dalam situasi tertentu. Misalnya, tidak menggunakan ponsel ketika makan bersama keluarga, sedang bertemu teman, atau melakukan percakapan penting dengan pasangan. Aturan tersebut tidak harus berlaku sepanjang hari. Cukup tentukan waktu tertentu sebagai periode bebas ponsel agar interaksi langsung tetap mendapatkan ruang. -
Aktifkan Mode Senyap
Notifikasi merupakan salah satu pemicu seseorang mengambil ponsel. Setiap suara, getaran, atau kemunculan notifikasi dapat membuat perhatian berpindah dari percakapan ke layar. Mengaktifkan mode senyap atau fitur Do Not Disturb dapat membantu mengurangi gangguan tersebut. Jika ada panggilan penting, pengguna tetap dapat memberikan pengecualian untuk kontak tertentu. -
Latih Kontrol Diri
Mengurangi phubbing membutuhkan kemampuan mengendalikan dorongan untuk memeriksa ponsel. Cobalah menahan diri selama beberapa menit ketika muncul keinginan membuka layar. Latihan sederhana dapat dilakukan dengan menentukan target, misalnya tidak menyentuh ponsel selama 15 atau 30 menit ketika sedang bersama orang lain. Durasi tersebut kemudian dapat ditingkatkan secara bertahap. -
Buat Tantangan untuk Diri Sendiri
Cara lain adalah menjadikan pengurangan penggunaan ponsel sebagai tantangan pribadi. Misalnya, seseorang dapat menetapkan target untuk menyelesaikan satu kali makan bersama keluarga tanpa memeriksa ponsel. Jika berhasil, berikan penghargaan sederhana kepada diri sendiri. Tujuannya bukan sekadar mendapatkan hadiah, melainkan membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat dalam menggunakan teknologi. -
Berikan Perhatian Penuh kepada Lawan Bicara
Ketika seseorang sedang berbicara, cobalah meletakkan ponsel dan memberikan perhatian penuh. Tatap lawan bicara, dengarkan perkataannya, dan jangan terburu-buru memeriksa layar. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membuat komunikasi menjadi lebih bermakna. Lawan bicara juga akan merasa dihargai dan lebih nyaman untuk menyampaikan cerita atau pendapat.
Bagaimana Jika Menjadi Korban Phubbing?
Tidak semua orang menjadi pelaku phubbing. Ada kalanya seseorang justru berada di posisi yang terus-menerus diabaikan karena ponsel. Jika mengalami kondisi tersebut, jangan langsung menyimpulkan bahwa Anda tidak penting bagi orang tersebut. Bisa jadi, ia tidak menyadari bahwa kebiasaannya menggunakan ponsel telah mengganggu orang lain.
Cobalah menyampaikan perasaan dengan cara yang tenang. Hindari langsung menyalahkan atau menyerang karakter orang tersebut. Jelaskan bahwa Anda merasa kurang nyaman ketika sedang berbicara tetapi perhatian lawan bicara terus tertuju pada ponsel.
Anda juga dapat memberikan contoh dengan menyimpan ponsel ketika berbicara dengannya. Sikap tersebut dapat menunjukkan bagaimana komunikasi yang saling menghargai seharusnya dilakukan.
Jika kebiasaan tersebut sudah berlangsung lama, perubahan mungkin membutuhkan waktu. Karena itu, komunikasi yang terbuka dan kesabaran tetap diperlukan.
Jangan Biarkan Ponsel Menggantikan Interaksi Manusia
Ponsel pada dasarnya bukan musuh dalam kehidupan sosial. Perangkat ini justru membantu manusia berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain tanpa batas jarak. Masalah muncul ketika ponsel mengambil alih perhatian pada saat seseorang seharusnya berinteraksi secara langsung.
Phubbing memang terlihat seperti kebiasaan kecil. Hanya memeriksa notifikasi, membalas satu pesan, atau melihat media sosial selama beberapa detik mungkin tampak tidak berarti. Namun, jika dilakukan berulang kali, tindakan tersebut dapat membuat orang lain merasa diabaikan dan tidak dihargai.
Karena itu, penggunaan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran sosial. Tidak setiap notifikasi harus segera dibuka dan tidak setiap pesan harus langsung dibalas ketika seseorang sedang berbicara di hadapan kita.
Memberikan perhatian penuh kepada orang lain merupakan bentuk sederhana dari rasa hormat. Dengan menyimpan ponsel untuk sementara, mendengarkan percakapan, dan menikmati momen bersama orang-orang terdekat, kualitas hubungan dapat menjadi lebih baik.
Jika kebiasaan menggunakan ponsel sudah sulit dikendalikan hingga mengganggu pekerjaan, kehidupan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Konsultasi dengan psikolog dapat membantu seseorang memahami pola perilakunya dan menemukan strategi yang lebih sesuai.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya membantu manusia terhubung, bukan justru membuat orang yang berada di depan mata merasa jauh. Mengurangi phubbing bukan berarti meninggalkan ponsel, melainkan belajar menempatkan teknologi pada waktu dan tempat yang tepat.
