Keasyikan Nonton Video Pendek Bisa Pengaruhi Aktivitas Otak
- Rita Puspita Sari
- •
- 4 jam yang lalu
Ilustrasi Youtube Shorts
Menonton video pendek yang menarik hingga selesai ternyata tidak hanya membuat seseorang larut dalam konten. Aktivitas pada sejumlah bagian otak yang berperan dalam mengatur fokus, pengambilan keputusan, dan kontrol kognitif juga mengalami perubahan ketika seseorang menikmati video tersebut.
Temuan ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan para peneliti dari Zhejiang University, China, dan diterbitkan dalam jurnal NeuroImage pada Januari 2026. Penelitian tersebut menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI) dan proton magnetic resonance spectroscopy (¹H-MRS) untuk mengamati aktivitas sekaligus kondisi neurokimia otak ketika seseorang menonton video pendek.
Hasilnya menunjukkan bahwa dua wilayah otak, yakni dorsal anterior cingulate cortex (dACC) dan dorsolateral prefrontal cortex (dlPFC), mengalami penurunan aktivitas yang cukup signifikan ketika peserta menonton video yang mereka sukai hingga selesai.
Melibatkan 56 orang dewasa muda
Dalam penelitian tersebut, para peneliti awalnya merekrut 66 sukarelawan. Namun, 10 peserta dikeluarkan karena mengalami gerakan kepala berlebihan selama proses pemindaian atau menghasilkan data yang dinilai tidak memenuhi kualitas penelitian.
Dengan demikian, analisis akhir dilakukan terhadap 56 orang dewasa muda, yang terdiri atas 37 pria dan 19 wanita. Rata-rata usia peserta mencapai 23,3 tahun. Seluruh peserta juga diketahui sudah memiliki pengalaman menggunakan aplikasi video pendek.
Saat berada di dalam mesin MRI, peserta diminta menonton dua sesi video yang masing-masing berlangsung selama enam menit. Materi yang digunakan berasal dari 160 klip video dengan durasi rata-rata sekitar 23,7 detik.
Kontennya cukup beragam, mulai dari aktivitas individu, interaksi antarmanusia, hewan peliharaan, adegan permainan, hingga pemandangan alam. Peserta juga diberikan kebebasan untuk melewati video yang tidak mereka inginkan dengan menekan sebuah tombol. Dari respons tersebut, peneliti kemudian membuat kategori berdasarkan perilaku peserta.
Video yang ditonton hingga selesai dikategorikan sebagai video yang "disukai". Sementara itu, video yang dilewati sebelum mencapai separuh durasinya dikategorikan sebagai video yang "tidak disukai".
Video favorit membuat aktivitas otak tertentu menurun
Ketika peserta menonton video yang mereka sukai sampai selesai, peneliti menemukan adanya penurunan aktivitas yang signifikan pada dACC dan dlPFC dibandingkan kondisi normal.
Kedua wilayah tersebut memiliki peran penting dalam fungsi kognitif. Secara umum, dACC berkaitan dengan pemantauan tindakan, pengendalian konflik, perhatian, serta proses pengambilan keputusan. Sementara itu, dlPFC berhubungan dengan berbagai fungsi kontrol kognitif, termasuk mempertahankan fokus dan mengatur perilaku.
Menariknya, respons otak tidak sepenuhnya sama ketika peserta menonton video yang tidak mereka sukai.
Pada video yang tidak disukai, aktivitas dACC tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan kondisi normal. Namun, aktivitas dlPFC tetap mengalami penurunan meskipun efeknya lebih kecil dibandingkan ketika peserta menonton video favorit.
Peneliti kemudian membandingkan temuan tersebut dengan aktivitas pada korteks visual utama atau V1. Berbeda dengan dACC dan dlPFC, wilayah V1 justru menunjukkan peningkatan aktivitas ketika peserta menonton kedua jenis video.
Temuan tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa perubahan yang diamati bukan sekadar akibat otak sedang menerima rangsangan visual dari video. Perubahan yang lebih spesifik terjadi pada wilayah yang berkaitan dengan kontrol kognitif.
Glutamat ikut dikaitkan dengan aktivitas otak
Untuk mengetahui kemungkinan mekanisme di balik perubahan tersebut, peneliti kemudian melihat kondisi neurokimia pada otak peserta. Sebelum pemindaian dilakukan, kadar glutamat dan GABA di wilayah dACC diukur menggunakan teknologi ¹H-MRS. Glutamat merupakan neurotransmiter yang berperan penting dalam aktivitas dan komunikasi antarsel saraf, sedangkan GABA dikenal sebagai neurotransmiter penghambat yang membantu mengatur aktivitas jaringan saraf.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta dengan kadar glutamat lebih tinggi cenderung mengalami penurunan aktivitas dACC yang lebih kecil ketika menonton video, baik video yang disukai maupun yang tidak disukai. Kadar glutamat juga ditemukan berkaitan dengan aktivitas dlPFC ketika peserta menonton video yang tidak mereka sukai.
Sebaliknya, kadar GABA tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan aktivitas dACC maupun dlPFC dalam penelitian tersebut. Para peneliti juga menemukan adanya peningkatan hubungan antara dACC dan dlPFC ketika peserta menonton video. Hubungan ini menjadi lebih kuat ketika mereka menyaksikan video yang disukai.
Menurut peneliti, pola tersebut kemungkinan menunjukkan adanya perubahan menuju proses pengolahan informasi yang lebih otomatis dan membutuhkan lebih sedikit usaha kognitif ketika seseorang menikmati konten yang dianggap menarik.
Bukan berarti video pendek "merusak" otak
Meski temuan tersebut terdengar mengkhawatirkan, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa menonton video pendek menyebabkan kerusakan otak atau secara langsung membuat kemampuan konsentrasi seseorang menurun. Penurunan aktivitas pada wilayah kontrol kognitif dalam konteks ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan respons otak ketika seseorang sangat terserap dalam aktivitas yang sedang dilakukan.
Fenomena tersebut memiliki kemiripan dengan kondisi flow, yaitu keadaan ketika seseorang begitu fokus dan tenggelam dalam suatu aktivitas hingga kesadaran terhadap hal-hal di luar aktivitas tersebut berkurang. Kondisi serupa sebelumnya juga telah diamati ketika seseorang menikmati film atau bermain gim.
Peserta dalam penelitian ini pun tetap menunjukkan kemampuan mengevaluasi konten. Hal tersebut terlihat dari keputusan mereka untuk melewati video yang dianggap tidak menarik. Dengan kata lain, penurunan aktivitas pada area tertentu tidak otomatis berarti kemampuan berpikir atau kontrol kognitif peserta sedang mengalami gangguan.
Ada sejumlah keterbatasan penelitian
Para peneliti juga menegaskan bahwa hasil penelitian perlu ditafsirkan secara hati-hati. Salah satu keterbatasan utamanya adalah penelitian hanya mengamati aktivitas otak peserta dalam satu sesi.
Penelitian ini juga tidak menggunakan skala khusus untuk mengukur penggunaan video pendek yang bermasalah atau tingkat kecanduan peserta terhadap aplikasi video pendek. Karena itu, hasilnya belum dapat digunakan untuk menjelaskan dampak kebiasaan menonton video pendek dalam jangka panjang.
Selain itu, kategori "video yang disukai" ditentukan terutama berdasarkan apakah peserta menontonnya sampai selesai. Metode tersebut belum tentu mampu membedakan preferensi sebenarnya dari rasa penasaran, ketertarikan sementara, atau alasan lain yang membuat seseorang tidak melewati video.
Pengukuran neurokimia juga hanya dilakukan pada dACC. Artinya, peneliti tidak memperoleh data kadar glutamat dan GABA secara langsung dari dlPFC. Yang tidak kalah penting, penelitian tersebut bersifat korelasional. Hubungan antara kadar glutamat dan aktivitas otak yang ditemukan tidak berarti glutamat terbukti menjadi penyebab perubahan aktivitas tersebut.
Karena itu, temuan penelitian ini sebaiknya dipahami sebagai gambaran mengenai bagaimana otak merespons ketika seseorang menikmati video pendek, bukan sebagai bukti bahwa kebiasaan menonton video pendek secara langsung menyebabkan kerusakan otak.
Penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar, pengamatan dalam jangka panjang, serta pengukuran perilaku penggunaan video pendek yang lebih terperinci masih diperlukan untuk mengetahui apakah paparan video pendek yang berlebihan benar-benar dapat memengaruhi kemampuan perhatian dan kontrol kognitif dalam kehidupan sehari-hari.
