Bahaya Sharenting! Jangan Asal Unggah Foto Anak di Media Sosial
- Rita Puspita Sari
- •
- 5 jam yang lalu
Ilustrasi Sharenting
Di era digital, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keluarga modern. Hampir setiap momen penting dalam kehidupan anak kini dapat diabadikan dan dibagikan hanya dalam hitungan detik. Mulai dari foto hasil USG, momen kelahiran, langkah pertama, ulang tahun, hingga aktivitas sehari-hari di sekolah sering kali menghiasi linimasa Facebook, Instagram, TikTok, maupun platform media sosial lainnya.
Kebiasaan orang tua membagikan foto, video, maupun cerita tentang anak di internet dikenal dengan istilah sharenting, gabungan dari kata sharing dan parenting. Praktik ini telah menjadi fenomena global seiring meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Di satu sisi, sharenting memberikan banyak manfaat. Orang tua dapat berbagi kebahagiaan dengan keluarga yang tinggal jauh, menyimpan kenangan digital, hingga membangun komunitas dengan sesama orang tua. Namun di sisi lain, kebiasaan ini juga membawa berbagai risiko yang sering kali tidak disadari.
Mulai dari pencurian identitas, penyalahgunaan foto, hilangnya privasi anak, hingga potensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber maupun predator anak menjadi ancaman nyata yang harus dipertimbangkan sebelum menekan tombol "unggah".
Lantas, apa sebenarnya sharenting? Mengapa praktik ini perlu diperhatikan? Dan bagaimana cara membagikan foto anak secara aman di internet?
Apa Itu Sharenting?
Sharenting adalah kebiasaan orang tua membagikan foto, video, atau informasi mengenai anak-anak mereka melalui media sosial atau platform digital lainnya.
Konten yang dibagikan biasanya berupa berbagai momen keseharian, seperti:
- foto bayi baru lahir;
- perkembangan tumbuh kembang anak;
- ulang tahun;
- kegiatan sekolah;
- liburan keluarga;
- prestasi akademik;
- aktivitas olahraga;
- hingga momen lucu yang dianggap menarik untuk dibagikan.
Bagi banyak orang tua, tindakan tersebut merupakan cara sederhana untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman. Terlebih bagi keluarga yang tinggal berjauhan, media sosial menjadi sarana praktis untuk tetap mengikuti perkembangan anak tanpa harus bertemu secara langsung.
Namun, tidak sedikit orang tua yang tanpa sadar membagikan terlalu banyak informasi mengenai anak mereka. Kebiasaan inilah yang dikenal sebagai oversharenting, yaitu berbagi informasi secara berlebihan hingga berpotensi mengganggu privasi maupun keamanan anak.
Mengapa Sharenting Sangat Populer?
Perkembangan teknologi membuat proses berbagi foto menjadi sangat mudah. Hanya dengan menggunakan smartphone, seseorang dapat mengambil gambar, menambahkan lokasi, memberi keterangan, lalu mengunggahnya ke media sosial dalam waktu kurang dari satu menit.
Selain itu, adanya fitur seperti Stories, Reels, Shorts, hingga Live Streaming membuat orang tua semakin terdorong membagikan kehidupan sehari-hari secara real-time.
Banyak pula orang tua yang memperoleh dukungan emosional dari komunitas digital. Mereka saling bertukar pengalaman mengenai kehamilan, menyusui, pendidikan anak, hingga kesehatan keluarga. Bagi sebagian orang, media sosial bahkan menjadi album foto digital yang praktis dibandingkan mencetak foto dalam bentuk fisik.
Tidak mengherankan jika berbagai survei menunjukkan sebagian besar orang tua aktif membagikan foto anak mereka secara online. Sayangnya, banyak dari mereka belum memahami dampak jangka panjang yang dapat muncul dari kebiasaan tersebut.
Manfaat Sharenting yang Perlu Diketahui
Sharenting bukan sepenuhnya praktik yang buruk. Jika dilakukan secara bijak, terdapat sejumlah manfaat yang bisa diperoleh.
-
Mempererat hubungan keluarga
Bagi keluarga yang tinggal di kota atau negara berbeda, media sosial menjadi jembatan komunikasi yang efektif. Kakek, nenek, paman, bibi, maupun kerabat lain tetap dapat mengikuti perkembangan anak tanpa harus bertemu langsung. -
Menjadi dokumentasi digital
Foto dan video yang dibagikan dapat menjadi arsip digital perjalanan tumbuh kembang anak. Banyak orang tua menikmati kembali kenangan tersebut beberapa tahun kemudian melalui fitur "Memories" atau "On This Day" yang tersedia di berbagai platform media sosial. -
Mendapatkan dukungan dari komunitas
Komunitas orang tua di internet sering menjadi tempat berbagi pengalaman mengenai pola asuh, kesehatan, pendidikan, maupun perkembangan anak. Bagi orang tua baru, komunitas ini dapat memberikan rasa percaya diri sekaligus mengurangi rasa cemas dalam menjalani peran sebagai ayah atau ibu.
Meski demikian, manfaat tersebut tetap harus diimbangi dengan kesadaran mengenai risiko yang mungkin muncul.
Bahaya Sharenting yang Sering Tidak Disadari
Sekilas, mengunggah foto anak tampak seperti aktivitas biasa. Namun, setiap foto yang dipublikasikan sebenarnya membawa sejumlah informasi yang dapat dimanfaatkan oleh pihak lain. Yang perlu diingat, internet memiliki sifat permanen. Sekali sebuah konten diunggah, sangat sulit memastikan bahwa konten tersebut benar-benar hilang meskipun sudah dihapus.
Foto bisa saja telah diunduh, disimpan, disebarluaskan, atau bahkan dimodifikasi oleh orang lain tanpa sepengetahuan pemilik akun. Inilah alasan mengapa orang tua perlu lebih berhati-hati sebelum membagikan informasi mengenai anak mereka.
Risiko Pencurian Identitas Anak
Salah satu ancaman terbesar dari sharenting adalah pencurian identitas. Banyak orang tua tidak menyadari bahwa setiap unggahan sering kali memuat informasi pribadi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagai contoh, dalam satu unggahan bisa saja terdapat:
- nama lengkap anak;
- tanggal lahir;
- nama sekolah;
- lokasi rumah;
- tempat les;
- klub olahraga;
- hingga kebiasaan sehari-hari.
Bagi penjahat siber, informasi tersebut sangat berharga. Pelaku dapat menggabungkan berbagai informasi yang tersedia di media sosial dengan data hasil kebocoran data pribadi atau serangan phishing untuk menyusun identitas digital anak. Akibatnya, identitas tersebut berpotensi disalahgunakan untuk berbagai tindakan kriminal, mulai dari pembuatan akun palsu, penipuan, hingga kejahatan finansial. Yang lebih mengkhawatirkan, korban sering kali baru mengetahui identitasnya dicuri ketika telah dewasa.
Jejak Digital yang Sulit Dihapus
Internet tidak pernah benar-benar lupa. Banyak orang tua beranggapan bahwa menghapus unggahan berarti foto tersebut telah hilang dari internet. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Foto dapat tersimpan di server platform media sosial, diunduh pengguna lain, dicadangkan oleh mesin pencari, atau tersebar melalui berbagai aplikasi perpesanan. Akibatnya, anak memiliki jejak digital bahkan sebelum mereka cukup dewasa untuk memahami apa itu internet.
Jejak digital tersebut dapat terus mengikuti mereka hingga dewasa. Di masa depan, unggahan lama yang dianggap lucu oleh orang tua bisa saja membuat anak merasa malu atau bahkan memengaruhi citra profesional mereka ketika melamar pekerjaan.
Kehilangan Kendali atas Foto
Begitu foto diunggah ke internet, orang tua hampir kehilangan kendali penuh terhadap penggunaannya. Meskipun akun media sosial diatur menjadi privat, bukan berarti foto benar-benar aman. Orang lain tetap dapat:
- mengambil tangkapan layar;
- mengunduh gambar;
- membagikan ulang;
- mengedit foto;
- membuat meme;
- bahkan menggunakan foto tersebut tanpa izin.
Tidak sedikit platform media sosial juga memiliki ketentuan penggunaan yang memberikan hak tertentu atas konten yang diunggah pengguna. Walaupun hak cipta tetap dimiliki pemilik foto, platform umumnya memperoleh lisensi untuk menggunakan, menyimpan, atau menampilkan konten sesuai ketentuan layanan mereka.
Karena itu, orang tua perlu memahami bahwa setiap foto yang dipublikasikan berpotensi berada di luar kendali mereka.
Dampak Psikologis bagi Anak
Hal yang sering terlupakan adalah bagaimana perasaan anak terhadap foto-foto yang dibagikan orang tuanya. Foto saat anak menangis, dimarahi, mandi, memakai pakaian lucu, atau mengalami kejadian memalukan mungkin dianggap menghibur oleh orang tua.
Namun ketika anak tumbuh besar, mereka bisa merasa malu, kehilangan privasi, bahkan kecewa karena momen pribadi mereka tersebar di internet tanpa persetujuan. Hubungan antara orang tua dan anak juga dapat terganggu apabila anak merasa hak privasinya tidak dihormati.
Karena itu, banyak pakar parenting menyarankan agar orang tua mulai meminta izin kepada anak sebelum membagikan foto mereka, terutama ketika anak telah cukup besar untuk memahami media sosial.
Risiko Predator Anak di Era Media Sosial
Selain ancaman pencurian identitas, bahaya lain yang tidak boleh dianggap remeh adalah kemungkinan foto anak dimanfaatkan oleh predator anak atau pelaku kejahatan seksual.
Banyak orang tua tidak menyadari bahwa sebuah foto sederhana dapat mengungkap berbagai informasi penting. Misalnya, latar belakang foto dapat memperlihatkan nama sekolah, logo seragam, taman bermain yang sering dikunjungi, hingga alamat rumah atau lingkungan tempat tinggal. Bahkan, jika fitur geotagging atau penanda lokasi diaktifkan, unggahan tersebut dapat menunjukkan lokasi anak secara lebih akurat.
Informasi semacam ini dapat dimanfaatkan oleh pihak yang berniat jahat untuk mempelajari kebiasaan keluarga. Mereka dapat mengetahui kapan anak berangkat sekolah, lokasi tempat bermain, hingga tempat yang sering dikunjungi bersama orang tua.
Ancaman tidak berhenti sampai di situ. Foto-foto anak yang tersebar di internet juga berpotensi disalin, diedit, atau digunakan di berbagai situs maupun forum ilegal tanpa sepengetahuan orang tua. Karena internet memungkinkan konten menyebar dengan sangat cepat, hampir mustahil mengetahui ke mana saja foto tersebut berpindah setelah diunggah.
Oleh karena itu, semakin sedikit informasi pribadi yang dibagikan, semakin kecil pula peluang pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkannya.
Persoalan Privasi dan Hak Anak
Salah satu perdebatan terbesar mengenai sharenting berkaitan dengan hak privasi anak. Berbeda dengan orang dewasa, anak-anak—terutama balita dan bayi—belum memiliki kemampuan untuk memahami apa itu media sosial atau memberikan persetujuan secara sadar terhadap penyebaran foto mereka di internet.
Artinya, seluruh keputusan berada di tangan orang tua. Padahal, setiap foto yang diunggah akan menjadi bagian dari jejak digital anak yang mungkin tetap ada hingga mereka dewasa.
Tidak sedikit remaja yang mulai mempertanyakan mengapa foto-foto masa kecil mereka diunggah tanpa izin. Sebagian bahkan merasa malu ketika teman sekolah menemukan foto-foto tersebut dan menjadikannya bahan candaan.
Karena itu, banyak pakar psikologi anak menyarankan agar orang tua mulai melibatkan anak dalam proses pengambilan keputusan ketika mereka sudah cukup memahami internet.
Menanyakan hal sederhana seperti, "Boleh Ayah atau Ibu mengunggah foto ini?" merupakan bentuk penghormatan terhadap privasi sekaligus mengajarkan anak mengenai pentingnya persetujuan (consent) di dunia digital.
Aspek Hukum yang Semakin Diperhatikan
Di berbagai negara, isu sharenting mulai menjadi perhatian dalam sistem hukum. Beberapa negara di Eropa memberikan perlindungan lebih besar terhadap hak privasi anak. Dalam kondisi tertentu, anak bahkan memiliki hak untuk meminta orang tua menghapus foto-foto mereka dari internet apabila dianggap melanggar privasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hak digital anak semakin diakui sebagai bagian dari hak asasi yang harus dilindungi.
Di Indonesia sendiri, kesadaran mengenai perlindungan data pribadi juga terus meningkat. Kehadiran regulasi terkait perlindungan data pribadi menjadi pengingat bahwa setiap individu, termasuk anak-anak, memiliki hak atas keamanan informasi pribadinya.
Meskipun belum ada aturan khusus yang mengatur sharenting secara rinci, orang tua tetap perlu berhati-hati agar tidak mengunggah konten yang berpotensi melanggar hak privasi anak atau membahayakan keselamatannya.
10 Tips Aman Membagikan Foto Anak di Media Sosial
Bagi orang tua yang tetap ingin berbagi momen bersama keluarga melalui media sosial, ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi berbagai risiko.
- Periksa Pengaturan Privasi Akun
Pastikan akun media sosial hanya dapat diakses oleh orang-orang yang benar-benar dikenal. Hindari membiarkan unggahan bersifat publik jika tidak diperlukan. Selain itu, lakukan pemeriksaan daftar pertemanan secara berkala dan hapus akun yang tidak dikenal atau sudah tidak berinteraksi lagi. - Batasi Audiens yang Melihat Unggahan
Tidak semua momen harus dibagikan kepada semua orang. Gunakan fitur seperti Close Friends, daftar teman tertentu, atau grup keluarga agar foto hanya dapat dilihat oleh orang-orang terdekat. - Nonaktifkan Geotag dan Metadata Lokasi
Hindari mencantumkan lokasi secara langsung ketika mengunggah foto anak. Informasi lokasi dapat membantu pihak lain mengetahui tempat tinggal, sekolah, maupun aktivitas rutin keluarga. Lebih aman membagikan foto setelah meninggalkan lokasi tersebut dibanding mengunggahnya secara langsung. - Jangan Mengungkap Informasi Pribadi
Hindari mencantumkan informasi seperti:- nama lengkap anak;
- tanggal lahir;
- alamat rumah;
- nama sekolah;
- nomor telepon;
- jadwal kegiatan;
- tempat les;
- maupun informasi identitas lainnya.
Semakin sedikit informasi yang tersedia, semakin kecil peluang dimanfaatkan pelaku kejahatan.
-
Gunakan Nama Panggilan
Apabila ingin menuliskan nama anak, gunakan nama panggilan dibanding nama lengkap. Cara sederhana ini dapat mengurangi kemungkinan informasi pribadi ditemukan melalui mesin pencari. -
Hindari Foto yang Bersifat Memalukan
Foto anak saat mandi, menangis, dimarahi, menggunakan pakaian yang memperlihatkan tubuh, atau momen yang berpotensi membuat mereka malu sebaiknya tidak dipublikasikan. Ingatlah bahwa sesuatu yang terasa lucu hari ini belum tentu dianggap lucu oleh anak ketika mereka berusia 15 atau 20 tahun. -
Gunakan Aplikasi Berbagi Foto yang Lebih Aman
Jika tujuan utama hanya berbagi dengan keluarga, pertimbangkan menggunakan aplikasi perpesanan yang memiliki fitur enkripsi end-to-end. Dengan begitu, foto tidak tersebar secara terbuka seperti di media sosial. -
Pertimbangkan Menyamarkan Wajah Anak
Saat ini semakin banyak orang tua memilih untuk tidak memperlihatkan wajah anak secara penuh. Sebagai alternatif, wajah dapat diburamkan, ditutupi emoji, diambil dari belakang, atau difoto dari sudut yang tidak memperlihatkan identitas secara jelas. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko penyalahgunaan foto. -
Minta Persetujuan Anak
Jika anak sudah cukup besar untuk memahami media sosial, biasakan meminta izin sebelum mengunggah foto mereka. Kebiasaan ini bukan hanya menghormati privasi anak, tetapi juga mengajarkan pentingnya menghargai hak orang lain di ruang digital. -
Berpikir Sebelum Mengunggah
Luangkan waktu beberapa menit sebelum menekan tombol "Posting". Tanyakan pada diri sendiri apakah foto tersebut benar-benar perlu dipublikasikan atau cukup disimpan sebagai kenangan pribadi. Sering kali keputusan terbaik adalah menyimpan momen indah di album keluarga tanpa harus membagikannya ke internet.
Kesimpulan
Sharenting telah menjadi bagian dari pola pengasuhan modern. Kehadiran media sosial membuat orang tua semakin mudah membagikan kebahagiaan, perkembangan, dan momen berharga bersama anak kepada keluarga maupun teman.
Namun, kemudahan tersebut juga membawa konsekuensi yang tidak boleh diabaikan. Foto yang tampak sederhana dapat mengungkap identitas, lokasi, hingga kebiasaan anak. Dalam situasi tertentu, informasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk pencurian identitas, penipuan, penyalahgunaan foto, maupun tindakan kriminal lainnya.
Selain aspek keamanan, orang tua juga perlu mempertimbangkan dampak psikologis dan hak privasi anak. Jejak digital yang dibangun sejak usia dini akan terus melekat hingga mereka dewasa. Karena itu, setiap unggahan sebaiknya dipikirkan secara matang agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.
Pada akhirnya, tidak ada aturan yang mengharuskan orang tua berhenti membagikan foto anak di internet. Yang terpenting adalah melakukannya secara bijaksana, membatasi informasi yang dipublikasikan, menggunakan pengaturan privasi yang tepat, serta selalu mengutamakan kepentingan dan keselamatan anak di atas keinginan untuk berbagi di media sosial.
Dengan berpikir dua kali sebelum mengunggah foto, orang tua tidak hanya menjaga keamanan digital anak, tetapi juga menghormati hak mereka untuk tumbuh dengan privasi yang terlindungi dan jejak digital yang lebih sehat di masa depan.
