Hati-Hati! Kebiasaan Ini Bikin Kamu Mudah Kena Penipuan Online
- Rita Puspita Sari
- •
- 8 jam yang lalu
Ilustrasi Penipuan Online
Kasus penipuan online di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan seiring dengan semakin masifnya aktivitas masyarakat di ruang digital. Mulai dari belanja daring, layanan perbankan digital, hingga komunikasi sehari-hari kini sangat bergantung pada internet. Namun, kemudahan ini juga membuka celah bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan aksinya.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat kerugian finansial akibat penipuan dan kejahatan siber mencapai Rp476 miliar dalam periode November 2024 hingga Januari 2025. Tak hanya itu, hingga pertengahan 2025 tercatat sekitar 1,2 juta laporan pengaduan penipuan digital masuk ke sistem pengaduan publik pemerintah. Angka ini menunjukkan bahwa ancaman penipuan online bukan lagi kasus sporadis, melainkan masalah serius yang bisa menimpa siapa saja.
Meski demikian, ada beberapa ciri umum yang membuat seseorang lebih rentan menjadi korban penipuan online. Dengan mengenali ciri-ciri ini, masyarakat diharapkan bisa lebih waspada dan terhindar dari kerugian. Berikut penjelasannya, lengkap dengan tips pencegahannya.
-
Mudah Percaya Tanpa Verifikasi
Salah satu karakteristik utama korban penipuan online adalah mudah percaya. Pelaku kejahatan siber kerap menyamar sebagai pihak resmi, seperti customer service bank, marketplace, instansi pemerintah, atau bahkan atasan di tempat kerja. Bahasa yang digunakan dibuat formal dan meyakinkan agar korban tidak curiga.Biasanya, pelaku juga menambahkan unsur tekanan psikologis, seperti ancaman akun akan diblokir, transaksi mencurigakan, atau pemberitahuan hadiah yang harus segera diklaim. Dalam kondisi ini, korban sering langsung mengikuti instruksi tanpa melakukan pengecekan ulang.
Tips menghindari:
Selalu lakukan verifikasi melalui kanal resmi. Jangan pernah memberikan data pribadi, kode OTP, atau PIN meski pengirim pesan mengaku dari pihak terpercaya. -
Kurangnya Literasi Digital
Rendahnya literasi digital juga menjadi faktor utama seseorang mudah terjebak penipuan online. Banyak pengguna belum memahami perbedaan antara tautan resmi dan link palsu, atau belum mengenali ciri-ciri pesan phishing yang tampak seolah sah.Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum sadar pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi. Informasi seperti nomor KTP, rekening bank, hingga kode verifikasi sering dibagikan tanpa disadari risikonya.
Tips menghindari:
Tingkatkan literasi digital dengan membaca informasi keamanan siber dari sumber tepercaya. Biasakan memeriksa alamat situs, ejaan pesan, dan jangan sembarangan mengklik tautan. -
Terburu-buru dan Mudah Panik
Pelaku penipuan sangat piawai memanfaatkan kondisi darurat. Pesan dengan narasi “segera”, “batas waktu”, atau “tindakan cepat diperlukan” sering digunakan untuk membuat korban panik dan kehilangan logika berpikir.Dalam kondisi terburu-buru, korban cenderung mengabaikan langkah-langkah pengecekan, sehingga lebih mudah tertipu untuk mentransfer uang, mengunduh file berbahaya, atau memberikan akses ke akun pribadi.
Tips menghindari:
Tenangkan diri dan jangan mengambil keputusan saat panik. Penipuan hampir selalu mengandalkan tekanan waktu untuk menjebak korban. -
Tidak Mengecek Detail Nomor dan Akun
Banyak penipuan bermula dari nomor telepon atau akun media sosial yang tampak meyakinkan. Padahal, pelaku sering menggunakan nomor acak, foto profil palsu, atau nama yang menyerupai akun resmi.Tanpa kebiasaan mengecek detail identitas, korban berisiko berkomunikasi langsung dengan penipu. Modus ini terus berulang karena banyak orang masih menganggap sepele proses verifikasi.
Tips menghindari:
Cek nomor telepon melalui mesin pencari, aplikasi pelacak spam, atau hubungi langsung pihak terkait melalui kanal resmi.
Penipuan online tidak selalu menargetkan orang yang “gaptek”. Siapa pun bisa menjadi korban jika lengah dan kurang waspada. Dengan mengenali ciri-ciri orang yang rentan tertipu serta menerapkan kebiasaan digital yang aman, risiko menjadi korban penipuan online dapat ditekan secara signifikan.
Di era digital, kewaspadaan adalah kunci utama. Ingat, pelaku penipuan selalu mencari celah, dan celah terbesar sering kali berasal dari kelengahan kita sendiri.
