Psikolog Soroti Bahaya Konten Viral yang Minim Edukasi
- Rita Puspita Sari
- •
- 11 jam yang lalu
Ilustrasi Media Sosial
Fenomena konten viral di media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat digital. Setiap hari, jutaan pengguna mengonsumsi berbagai informasi dari platform seperti TikTok, Instagram, X, Facebook, hingga YouTube. Di tengah persaingan yang semakin ketat untuk mendapatkan perhatian publik, banyak kreator konten berlomba-lomba menciptakan materi yang menarik, menghibur, bahkan kontroversial agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas.
Namun, di balik tingginya angka tayangan, likes, komentar, dan jumlah pengikut, muncul pertanyaan penting mengenai kualitas serta dampak informasi yang disampaikan kepada masyarakat. Viralitas sebuah konten tidak selalu berbanding lurus dengan nilai edukasi yang dikandungnya.
Psikolog sekaligus akademisi Psikologi Digital Binus University Semarang, Gary Collins Brata Winardy, M.Psi., mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah konten tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa banyak orang yang melihat atau membagikannya. Menurutnya, aspek yang jauh lebih penting adalah apakah pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan benar oleh audiens.
“Persoalannya bukan lagi apakah sebuah konten bisa viral atau tidak, tetapi apakah pesan yang disampaikan diterima dengan tepat atau justru menimbulkan kegaduhan,” ujar Gary dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).
Pernyataan tersebut menjadi relevan di tengah semakin banyaknya konten yang mengandalkan sensasi demi menarik perhatian pengguna media sosial. Tidak sedikit kreator yang menggunakan judul provokatif atau teknik klikbait untuk meningkatkan jumlah penonton.
Menurut Gary, penggunaan klikbait pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Dalam dunia digital yang sangat kompetitif, judul yang menarik memang menjadi salah satu strategi untuk membuat audiens berhenti sejenak dan memperhatikan sebuah konten. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika judul sensasional tersebut tidak diimbangi dengan penjelasan yang lengkap dan akurat.
Ia menilai banyak kreator masih terlalu fokus mengejar angka engagement tanpa memikirkan apakah audiens benar-benar memahami informasi yang disampaikan.
“Klikbait bukan sesuatu yang salah. Yang menjadi masalah adalah ketika kreator lepas tangan setelah kontennya viral. Edukasi tidak cukup hanya menyampaikan informasi, tetapi juga memastikan audiens memahami informasi tersebut dengan benar,” jelasnya.
Dalam praktiknya, kondisi tersebut sering kali memunculkan kesalahpahaman di masyarakat. Informasi yang dipotong, dikemas secara berlebihan, atau tidak memiliki konteks yang memadai dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda. Akibatnya, publik lebih mudah terpengaruh oleh emosi dibandingkan memahami substansi persoalan yang sebenarnya.
Selain membahas fenomena klikbait, Gary juga menyoroti tantangan lain yang dihadapi masyarakat digital saat ini, yakni information overload atau banjir informasi. Perkembangan teknologi membuat masyarakat dapat mengakses berbagai berita dan peristiwa dari seluruh dunia secara real-time selama 24 jam penuh.
Di satu sisi, kondisi ini memberikan manfaat besar karena masyarakat menjadi lebih mudah memperoleh informasi dan memperluas wawasan. Namun di sisi lain, arus informasi yang tidak pernah berhenti juga berpotensi menimbulkan kelelahan mental dan emosional.
Gary menjelaskan bahwa manusia memiliki kapasitas emosional yang terbatas dalam merespons berbagai isu yang muncul setiap hari. Ketika seseorang terus-menerus terpapar berita tentang konflik, bencana, krisis ekonomi, atau persoalan sosial dari berbagai belahan dunia, energi emosional yang dimiliki bisa terkuras tanpa menghasilkan tindakan yang nyata.
“Peduli terhadap isu global tentu baik, tetapi jangan sampai menghabiskan energi emosional tanpa ada tindakan nyata yang bisa dilakukan. Dampak terbesar justru sering kali dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan kita,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat perlu lebih selektif dalam mengonsumsi informasi. Tidak semua isu harus direspons secara berlebihan. Memilih informasi yang relevan dan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kehidupan sehari-hari dapat membantu menjaga kesehatan mental sekaligus meningkatkan kualitas pemahaman terhadap suatu persoalan.
Lebih lanjut, Gary juga menyoroti fenomena yang semakin sering terjadi di ruang digital, yaitu kaburnya batas antara influencer dan buzzer. Dalam banyak kasus, masyarakat kesulitan membedakan apakah seseorang menyampaikan opini pribadi, melakukan promosi, atau sedang menjalankan agenda tertentu.
Ia menilai persepsi negatif biasanya muncul ketika publik merasa ada kepentingan yang disembunyikan dari sebuah konten. Ketidakjelasan mengenai tujuan atau motivasi kreator dapat memunculkan kecurigaan dan mengurangi tingkat kepercayaan audiens.
“Kuncinya adalah transparansi. Ketika tujuan atau motivasi tidak dijelaskan secara jelas, publik akan mudah curiga dan memberikan label tertentu,” kata Gary.
Karena itu, ia menekankan pentingnya keterbukaan dalam setiap bentuk komunikasi digital. Kreator yang secara jujur mengungkapkan kerja sama komersial, afiliasi, atau tujuan tertentu akan lebih mudah membangun kepercayaan publik dibandingkan mereka yang menutupi informasi tersebut.
Tantangan lain yang turut menjadi perhatian adalah meningkatnya popularitas video pendek di berbagai platform media sosial. Format video berdurasi singkat memang terbukti efektif menarik perhatian pengguna yang memiliki rentang fokus semakin pendek. Namun, format ini juga memiliki keterbatasan dalam menjelaskan isu yang kompleks.
Menurut Gary, konten berdurasi satu hingga dua menit sering kali tidak cukup untuk membahas suatu topik secara mendalam. Akibatnya, audiens cenderung memberikan respons yang cepat dan emosional tanpa memiliki kesempatan untuk memahami konteks yang lebih luas.
“Konten satu atau dua menit sangat terbatas untuk membahas sebuah isu secara komprehensif. Akibatnya, respons yang muncul sering kali lebih reaktif daripada reflektif,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gary mendorong para kreator konten agar lebih bertanggung jawab dalam menyajikan informasi. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah dengan mencantumkan sumber rujukan yang jelas, tautan informasi lanjutan, maupun disclaimer yang membantu audiens memahami batasan informasi yang disampaikan.
Menurutnya, pengaruh besar yang dimiliki para kreator seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengejar popularitas atau keuntungan semata, tetapi juga untuk meningkatkan literasi digital masyarakat.
“Pengaruh yang dimiliki kreator seharusnya digunakan untuk membantu masyarakat menjadi lebih paham, lebih kritis, dan lebih bijak dalam menyikapi informasi,” pungkas Gary.
Di era ketika satu unggahan dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan jam, tanggung jawab kreator konten menjadi semakin besar. Viralitas memang mampu membuka peluang dan memperluas jangkauan pesan, tetapi nilai sebenarnya dari sebuah konten terletak pada sejauh mana informasi tersebut memberikan pemahaman yang benar serta manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, ruang digital tidak hanya menjadi arena perebutan perhatian, tetapi juga sarana edukasi yang sehat dan membangun.
