Usia Anak Dimanipulasi di Medsos, Ini Cara Mengatasinya


Ilustrasi Anak dengan Gadget

Ilustrasi Anak dengan Gadget

Fenomena anak-anak yang memalsukan usia demi bisa mengakses media sosial kini menjadi perhatian serius pemerintah. Di tengah derasnya arus digital, pembatasan usia sebenarnya dibuat untuk melindungi anak dari konten berisiko. Namun celah teknologi membuat aturan tersebut kerap ditembus dengan mudah, cukup dengan menggeser tahun lahir saat pendaftaran akun.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengungkapkan bahwa praktik manipulasi usia ini terjadi di banyak platform digital. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyebut mayoritas layanan digital masih mengandalkan sistem pengisian usia secara manual. Artinya, verifikasi usia belum benar-benar akurat dan sangat bergantung pada kejujuran pengguna.

Masalahnya, tidak semua anak memahami risiko di balik kebebasan bermedia sosial. Paparan konten dewasa, potensi perundungan siber, hingga penipuan digital menjadi ancaman nyata. Karena itu, solusi teknologi canggih kini mulai disiapkan, salah satunya melalui penerapan age inferential technology.

 

Apa Itu Age Inferential dan Mengapa Penting?

Teknologi age inferential bekerja dengan menganalisis pola perilaku pengguna. Algoritma akan membaca jenis konten yang sering diakses, cara berinteraksi, hingga kebiasaan digital sehari-hari. Jika sistem mendeteksi anomali—misalnya akun berusia “dewasa” tetapi lebih sering mengakses konten anak-anak—platform dapat menandainya sebagai akun berisiko.

Dari hasil analisis tersebut, akun bisa dibatasi, diverifikasi ulang, bahkan diblokir jika terindikasi melanggar batas usia. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibanding sekadar imbauan pengisian umur, yang selama ini terbukti kurang efektif.

 

Tips untuk Orang Tua: Lindungi Anak di Dunia Digital

Di tengah pengembangan teknologi tersebut, peran orang tua tetap krusial. Berikut beberapa tips praktis yang bisa diterapkan:

  1. Aktifkan Parental Control
    Banyak platform dan sistem operasi menyediakan fitur kontrol orang tua untuk membatasi konten, durasi penggunaan, dan aplikasi tertentu.

  2. Gunakan Akun Khusus Anak
    Beberapa layanan menyediakan mode atau akun ramah anak yang secara otomatis memfilter konten tidak sesuai usia.

  3. Ajarkan Literasi Digital Sejak Dini
    Anak perlu memahami bahwa tidak semua konten di internet aman. Diskusi terbuka jauh lebih efektif daripada sekadar melarang.

  4. Pantau Aktivitas Media Sosial Secara Berkala
    Tidak perlu terlalu mengintai, tetapi ketahui platform apa yang digunakan anak dan dengan siapa mereka berinteraksi.

  5. Hindari Mengajarkan Jalan Pintas
    Membantu anak memalsukan usia justru berisiko jangka panjang, baik dari sisi keamanan data maupun perkembangan psikologis.

 

Bagaimana dengan Face Recognition?

Selain age inferential, teknologi pemindaian wajah (face recognition) juga masuk dalam pembahasan. Namun penerapannya tidak bisa sembarangan. Pemerintah dan platform digital harus memastikan perlindungan data pribadi, terutama data biometrik anak-anak, tetap sesuai regulasi yang berlaku.

Nezar menegaskan bahwa solusi teknologi tidak boleh menimbulkan masalah baru. Kepatuhan terhadap aturan perlindungan data menjadi syarat mutlak agar keamanan digital anak tetap terjaga.

Maraknya pemalsuan usia di media sosial menunjukkan bahwa tantangan perlindungan anak di era digital semakin kompleks. Teknologi canggih seperti age inferential memang menjanjikan, tetapi tetap perlu diimbangi dengan edukasi dan keterlibatan orang tua. Dengan kombinasi teknologi, regulasi, dan literasi digital, ruang digital yang lebih aman bagi anak bukan sekadar harapan, melainkan tujuan yang bisa dicapai.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait