Herd Mentality, Fenomena Ikut Tren Viral di Era Digital


Ilustrasi Herd Mentality

Ilustrasi Herd Mentality

Di era digital yang serba cepat seperti sekarang, tren bisa muncul dan menyebar hanya dalam hitungan jam. Apa yang viral hari ini bisa langsung menjadi pembicaraan di mana-mana, mulai dari media sosial, grup percakapan, hingga obrolan di kantor atau lingkungan pertemanan. Tanpa disadari, banyak orang akhirnya ikut melakukan hal yang sama hanya karena “semua orang juga melakukannya”. Fenomena inilah yang dikenal sebagai herd mentality.

Herd mentality adalah kondisi ketika seseorang mengikuti keputusan, tindakan, atau opini mayoritas, meskipun sebenarnya hal tersebut belum tentu sesuai dengan penilaian, kebutuhan, atau keinginan pribadinya. Seseorang bisa saja sadar bahwa keputusan tersebut berisiko atau kurang tepat, tetapi tetap melakukannya karena merasa lebih aman ketika berada di barisan yang sama dengan orang banyak.

Fenomena ini sering dianggap sepele karena tampak sebagai perilaku wajar dalam kehidupan sosial. Padahal, jika terjadi terus-menerus, herd mentality dapat memengaruhi cara berpikir, pengambilan keputusan, bahkan membentuk kebiasaan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

Mengapa Herd Mentality Mudah Terjadi?

Secara psikologis, manusia adalah makhluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk diterima dan diakui oleh lingkungannya. Ketika berada dalam kelompok, ada dorongan alami untuk menyesuaikan diri agar tidak dianggap berbeda atau menyimpang. Mengikuti mayoritas sering kali memberi rasa aman, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan kepercayaan diri, meskipun keputusan tersebut belum tentu benar.

Selain faktor psikologis, perkembangan teknologi dan media sosial turut memperkuat herd mentality. Arus informasi yang sangat cepat membuat orang cenderung bereaksi spontan tanpa sempat berpikir panjang. Konten viral, opini influencer, dan komentar netizen dapat membentuk persepsi seolah-olah sesuatu adalah “pilihan paling benar” hanya karena dilakukan oleh banyak orang.

Budaya dan lingkungan sosial juga berperan besar. Dalam masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan dan keseragaman, tekanan untuk mengikuti arus biasanya lebih kuat dibandingkan budaya yang mendorong perbedaan pendapat dan pemikiran kritis.

 

Herd Mentality dalam Kehidupan Sehari-hari

Herd mentality tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga hadir dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa contoh nyata yang sering kita jumpai.

  1. Panic Buying dan Memborong Barang
    Salah satu contoh paling jelas adalah fenomena panic buying. Ketika muncul isu kelangkaan barang, seperti sembako atau alat kesehatan, banyak orang langsung memborong dalam jumlah besar. Padahal, belum tentu semua orang benar-benar membutuhkan barang tersebut saat itu juga.

    Perilaku ini biasanya dipicu oleh berita viral, unggahan media sosial, atau melihat orang lain melakukan hal serupa. Akibatnya, barang yang awalnya masih cukup menjadi benar-benar langka, dan kelompok yang paling membutuhkan justru kesulitan mendapatkannya.

  2. Menyebarkan Informasi Tanpa Verifikasi
    Di era digital, informasi menyebar sangat cepat. Sayangnya, kecepatan ini tidak selalu diimbangi dengan kehati-hatian. Banyak orang ikut membagikan berita viral tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu.

    Karena melihat banyak orang membagikan informasi yang sama, seseorang merasa informasi tersebut pasti benar. Padahal, hoaks dan misinformasi sering kali justru memanfaatkan herd mentality untuk menyebar lebih luas, menimbulkan kepanikan, keresahan, bahkan konflik di masyarakat.

  3. Ikut Tren Investasi dan Bisnis
    Tren investasi dan bisnis juga sering dipengaruhi herd mentality. Ketika suatu instrumen investasi atau jenis usaha sedang ramai dibicarakan, banyak orang tergoda untuk ikut terjun tanpa pemahaman yang memadai.

    Keputusan yang diambil hanya berdasarkan cerita sukses orang lain, tanpa mempertimbangkan risiko dan kondisi pribadi, dapat berujung pada kerugian finansial. Tidak sedikit orang yang akhirnya menyesal karena mengikuti tren tanpa perhitungan matang.

  4. Menyetujui Pendapat Mayoritas
    Dalam diskusi kelompok, baik di sekolah, kampus, maupun tempat kerja, herd mentality sering muncul ketika seseorang memilih diam atau menyetujui pendapat mayoritas, meskipun sebenarnya memiliki pandangan berbeda.

    Rasa takut dianggap aneh, tidak kompak, atau mengganggu keharmonisan kelompok membuat banyak orang mengorbankan pendapat pribadinya. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat menghambat munculnya ide-ide baru dan menurunkan kualitas pengambilan keputusan dalam tim.

  5. Mengonsumsi Produk karena Viral
    Tren makanan, minuman, fesyen, hingga produk kecantikan sering kali mendorong orang untuk membeli hanya karena sedang viral. Keputusan tersebut bukan lagi berdasarkan kebutuhan atau kecocokan, melainkan keinginan untuk tidak ketinggalan tren.

    Akibatnya, tidak sedikit orang yang menyesal setelah membeli produk yang ternyata tidak sesuai dengan selera, kebutuhan, atau kondisi keuangannya.

 

Faktor yang Mendorong Herd Mentality

Herd mentality tidak muncul begitu saja. Ada sejumlah faktor yang secara psikologis dan sosial mendorong seseorang untuk mengikuti keputusan atau perilaku mayoritas, meskipun belum tentu sesuai dengan penilaian pribadinya. Faktor-faktor ini sering kali saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain.

  1. Keinginan untuk diterima dan rasa takut dikucilkan
    Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan sosialnya. Rasa takut dianggap berbeda, aneh, atau tidak sejalan dengan kelompok membuat seseorang memilih mengikuti arus. Dengan menyamakan pendapat atau perilaku dengan orang lain, individu merasa lebih aman dan terhindar dari risiko penolakan sosial.

  2. Kurangnya rasa percaya diri dalam mengambil keputusan sendiri
    Seseorang yang ragu terhadap penilaian pribadinya cenderung mencari pegangan dari keputusan orang lain. Ketika melihat banyak orang memilih hal yang sama, keputusan tersebut dianggap lebih benar dan aman. Akibatnya, individu lebih percaya pada suara mayoritas daripada pada kemampuan berpikir dan pertimbangannya sendiri.

  3. Minimnya pengetahuan atau informasi yang mendalam
    Keterbatasan informasi membuat seseorang sulit menilai suatu situasi secara objektif. Dalam kondisi ini, mengikuti apa yang dilakukan banyak orang terasa lebih mudah daripada harus mencari dan memahami informasi secara mendalam. Mayoritas sering dianggap sebagai indikator kebenaran, meskipun belum tentu demikian.

  4. Pengaruh media massa dan media sosial
    Media memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik. Informasi yang disajikan secara berulang dan viral dapat menciptakan kesan bahwa suatu perilaku atau opini adalah hal yang wajar dan patut diikuti. Media sosial bahkan memperkuat efek ini melalui algoritma yang menampilkan konten serupa secara terus-menerus, sehingga seseorang merasa “semua orang” melakukan hal yang sama.

  5. Tekanan sosial untuk menyesuaikan diri
    Dalam kelompok pertemanan, lingkungan kerja, atau komunitas tertentu, tekanan untuk tampil sejalan dengan mayoritas bisa sangat kuat. Seseorang mungkin mengorbankan pendapat pribadinya demi menjaga keharmonisan atau menghindari konflik. Tekanan ini sering kali bersifat tidak langsung, tetapi cukup kuat untuk memengaruhi keputusan.

  6. Budaya kolektivisme yang menekankan keseragaman
    Dalam budaya yang menjunjung tinggi kebersamaan, perbedaan pendapat kadang dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Nilai-nilai seperti kekompakan dan keselarasan kelompok membuat individu lebih memilih mengikuti keputusan bersama daripada menonjolkan pandangan pribadi.

Secara keseluruhan, kombinasi dari faktor psikologis, sosial, dan budaya tersebut membuat seseorang merasa lebih aman mengikuti arus mayoritas dibandingkan berdiri dengan keputusan sendiri. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat mengikis kemampuan berpikir kritis dan kemandirian dalam mengambil keputusan.

 

Perbedaan Herd Mentality dan FOMO

Herd mentality sering disamakan dengan FOMO (fear of missing out), padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. FOMO adalah rasa takut ketinggalan momen, pengalaman, atau tren yang sedang dialami orang lain. Dorongannya berasal dari kecemasan pribadi, seperti takut dianggap tidak update atau tidak relevan.

Sementara itu, herd mentality lebih berkaitan dengan tekanan sosial dan pengaruh kelompok. Seseorang mengikuti keputusan mayoritas karena ingin menyesuaikan diri, bukan semata-mata karena takut ketinggalan.

Meski berbeda, keduanya sering saling berkaitan dan sama-sama memengaruhi cara seseorang mengambil keputusan, terutama di era media sosial.

 

Risiko dan Dampak Herd Mentality

Jika tidak disadari, herd mentality dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Salah satunya adalah kecenderungan mengabaikan logika dan penilaian pribadi. Keputusan yang diambil menjadi kurang matang dan berpotensi menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Selain itu, herd mentality dapat memicu penyebaran perilaku tidak sehat atau berbahaya, seperti mengikuti tantangan ekstrem, gaya hidup berisiko, atau kebiasaan konsumtif yang berlebihan.

Dalam jangka panjang, kebiasaan mengikuti arus dapat menghambat kemampuan berpikir kritis dan mandiri. Individu menjadi terbiasa bergantung pada keputusan orang lain dan semakin ragu terhadap penilaian diri sendiri.

Beberapa dampak lain yang juga patut diwaspadai antara lain:

  • Mudah terjebak hoaks dan penipuan
  • Kerugian finansial akibat keputusan impulsif
  • Menurunnya kepercayaan diri
  • Rentan terlibat perilaku menyimpang karena tekanan kelompok

 

Cara Menghindari Terjebak Herd Mentality

Menyadari keberadaan herd mentality adalah langkah awal yang penting. Selanjutnya, biasakan diri untuk berpikir kritis sebelum mengambil keputusan. Cari informasi dari berbagai sumber tepercaya, jangan ragu untuk bertanya, dan beri waktu pada diri sendiri untuk mempertimbangkan pilihan dengan matang.

Berani berbeda bukan berarti menentang orang lain, melainkan menghargai proses berpikir dan nilai pribadi. Diskusi dengan orang-orang yang memiliki sudut pandang berbeda juga dapat membantu memperluas perspektif dan memperkuat keyakinan dalam mengambil keputusan.

Jika Anda merasa sering terjebak dalam perilaku ikut-ikutan atau kesulitan membedakan antara keputusan pribadi dan tekanan sosial, berdiskusi dengan psikolog dapat menjadi pilihan yang bijak. Konsultasi dapat membantu Anda mengenali diri sendiri dengan lebih baik dan membangun kepercayaan diri untuk mengambil keputusan yang lebih sehat dan selaras dengan nilai yang Anda pegang.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait