Fenomena Slacktivism, Cara Baru Anak Muda Suarakan Isu Sosial


Ilustrasi Aktivisme Digital

Ilustrasi Aktivisme Digital

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk cara masyarakat menyuarakan kepedulian terhadap isu sosial, politik, dan kemanusiaan. Jika dulu aktivisme identik dengan turun ke jalan, membawa poster, dan meneriakkan tuntutan di hadapan penguasa, kini bentuk perjuangan tersebut mengalami transformasi besar. Cukup dengan ponsel di tangan, koneksi internet, dan akun media sosial, siapa pun bisa ikut menyuarakan dukungan atau penolakan terhadap suatu isu.

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai gerakan sosial yang viral di media sosial. Di Indonesia, misalnya, tagar #SahkanRUUPKS sempat ramai digunakan untuk mendesak DPR agar segera mengesahkan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual yang sudah lama masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) prioritas, tetapi tak kunjung disahkan. Ada pula tagar #TolakOmnibusLaw yang digunakan oleh masyarakat untuk mengekspresikan kekhawatiran terhadap RUU Cipta Kerja yang dinilai merugikan buruh dan pekerja kontrak.

Dalam hitungan jam, bahkan menit, sebuah isu bisa menyebar luas dan menjadi perbincangan nasional. Aktivisme yang dulunya memerlukan tenaga, waktu, dan keberanian besar, kini seolah dapat dilakukan hanya dengan satu klik: like, comment, dan share. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah bentuk aktivisme semacam ini benar-benar mampu membawa perubahan nyata?

 

Memahami Aktivisme Digital dan Slacktivism

Aktivisme digital sering kali disamakan dengan istilah slacktivism. Kata slacktivism berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Inggris, yaitu slack yang berarti malas, dan activism yang berarti aktivisme. Secara sederhana, slacktivism merujuk pada bentuk partisipasi sosial atau politik yang dilakukan secara minimal, biasanya melalui media digital.

Menurut akademisi Max Halupka, aktivisme digital atau slacktivism adalah aksi online yang dilakukan sebagai respons terhadap isu sosial tertentu. Aksi ini umumnya tidak membutuhkan komitmen jangka panjang, keahlian khusus, atau pengorbanan besar. Kontennya mudah ditiru, dibagikan ulang, dan diproduksi kembali oleh publik. Selain itu, slacktivism biasanya masih berada dalam kerangka sistem politik dan sosial yang sudah ada.

Contoh paling umum dari slacktivism adalah mengganti foto profil dengan simbol tertentu, menandatangani petisi online, membagikan unggahan bertagar isu sosial, atau memberikan dukungan melalui likes dan komentar. Bagi sebagian orang, tindakan ini dianggap sebagai bentuk kepedulian dan partisipasi warga negara di era digital.

Namun, tidak sedikit pula yang memandang slacktivism secara negatif. Karena dianggap terlalu mudah dan minim risiko, slacktivism sering dicap sebagai “aktivisme malas” yang hanya memberi rasa puas sesaat tanpa benar-benar menghasilkan perubahan nyata.

 

Kritik Terhadap Slacktivism

Salah satu kritik utama terhadap slacktivism adalah anggapan bahwa aksi ini tidak memberikan dampak konkret. Berbeda dengan demonstrasi di jalan yang bisa menekan pengambil kebijakan secara langsung, aktivisme digital sering kali berhenti pada diskusi di ruang maya. Isu yang hari ini viral, bisa saja besok tenggelam oleh topik lain yang lebih sensasional.

Selain itu, derasnya arus informasi di media sosial membuat perhatian publik mudah teralihkan. Banyak orang ikut membagikan suatu isu bukan karena memahami substansinya, melainkan karena ikut arus atau takut dianggap tidak peduli. Akibatnya, pesan yang disampaikan menjadi dangkal dan kehilangan kekuatan advokasinya.

Slacktivism juga kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politik atau ekonomi. Informasi yang tidak lengkap, menyesatkan, bahkan hoaks, bisa dengan mudah menyebar karena minimnya verifikasi dari pengguna. Jika tidak disertai sikap kritis, aktivisme digital justru berpotensi memperkeruh situasi dan memperbesar polarisasi di masyarakat.

 

Bisakah Aktivisme Digital Membawa Perubahan?

Meski menuai banyak kritik, bukan berarti slacktivism selalu gagal membawa dampak. Dalam kondisi tertentu, aktivisme digital justru mampu menjadi pemicu perubahan sosial yang signifikan. Salah satu contoh paling terkenal adalah gerakan #BlackLivesMatter di Amerika Serikat.

Gerakan ini muncul pada tahun 2013 sebagai respons atas maraknya kasus kekerasan dan pembunuhan terhadap warga keturunan Afrika-Amerika oleh aparat kepolisian. Tagar #BlackLivesMatter digunakan untuk menyoroti isu rasisme sistemik, diskriminasi, dan ketidakadilan yang dialami oleh komunitas kulit hitam di Amerika Serikat.

Berdasarkan data dari Pew Research Center, dalam rentang waktu Juli 2013 hingga Maret 2016, tagar #BlackLivesMatter digunakan sebanyak 13,3 juta kali di media sosial. Angka ini menunjukkan besarnya dukungan publik terhadap isu yang diangkat oleh gerakan tersebut.

Yang membuat #BlackLivesMatter dianggap sebagai slacktivism yang berhasil adalah keberlanjutan aksinya. Diskusi yang dimulai di media sosial tidak berhenti di ranah digital, melainkan berlanjut ke dunia nyata. Aksi protes digelar di berbagai kota, isu rasisme menjadi agenda nasional, dan kebijakan publik mulai dipertanyakan serta dievaluasi. Gerakan ini bahkan menyebar ke berbagai negara lain dan menjadi simbol perjuangan melawan diskriminasi rasial.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa aktivisme digital dapat menjadi pintu masuk menuju perubahan yang lebih besar, asalkan diiringi dengan aksi nyata dan komitmen berkelanjutan.

 

Bijak dalam Melakukan Aktivisme Digital

Sebagai pengguna media sosial, kita memiliki peran penting dalam menentukan arah dan dampak dari aktivisme digital. Kepedulian terhadap isu sosial adalah hal yang positif, tetapi perlu dibarengi dengan sikap bijak dan bertanggung jawab. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum terlibat dalam aktivisme digital.

  • Pertama, cek ulang konten yang akan dibagikan. Tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat dipercaya. Bisa jadi konten tersebut mengandung hoaks, data yang dimanipulasi, atau narasi yang sengaja dibelokkan. Sebelum membagikan, pastikan untuk memeriksa sumber informasi, membaca dari berbagai sudut pandang, dan melakukan riset singkat. Dengan begitu, kita tidak menjadi bagian dari penyebaran informasi yang menyesatkan.
  • Kedua, pikirkan konsekuensi dari setiap unggahan. Apa yang kita bagikan di media sosial dapat berdampak luas, baik secara pribadi maupun sosial. Aktivisme digital bisa menyatukan, tetapi juga berpotensi memecah belah. Oleh karena itu, penting untuk menyampaikan pendapat dengan bahasa yang beretika, tidak provokatif, dan menghormati perbedaan pandangan.
  • Ketiga, jangan berhenti di slacktivism. Aktivisme digital sebaiknya menjadi langkah awal, bukan akhir dari kepedulian kita. Setelah menyuarakan dukungan di media sosial, kita bisa melanjutkannya dengan tindakan lain, seperti berdiskusi secara langsung, mengikuti forum edukatif, mendukung komunitas terkait, atau bahkan terlibat dalam aksi nyata sesuai kemampuan masing-masing.

Aktivisme digital atau slacktivism adalah fenomena yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Di satu sisi, ia membuka ruang partisipasi yang luas dan inklusif. Di sisi lain, ia menuntut kedewasaan, literasi digital, dan tanggung jawab dari para penggunanya.

Selama dilakukan secara bijak, kritis, dan berkelanjutan, aktivisme digital memiliki potensi untuk membawa perubahan, baik pada tingkat individu maupun masyarakat. Bukan soal seberapa keras kita bersuara di media sosial, melainkan seberapa jauh kepedulian itu diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Di era digital ini, perubahan bisa dimulai dari layar gawai, tetapi tidak seharusnya berhenti di sana.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait