Mengenal AI Influencer dan Perannya dalam Dunia Digital
- Rita Puspita Sari
- •
- 5 jam yang lalu
Ilustrasi Artificial Intelligence
Media sosial telah mengubah cara orang mencari informasi, mengikuti tren, hingga menentukan produk yang ingin dibeli. Salah satu pihak yang memiliki pengaruh besar dalam ekosistem tersebut adalah influencer. Melalui konten yang dibuat, influencer dapat membentuk opini dan memengaruhi keputusan pengikutnya.
Namun, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai menghadirkan sosok baru di dunia influencer, yakni AI influencer atau virtual influencer. Berbeda dengan influencer pada umumnya, sosok ini tidak benar-benar hidup sebagai manusia. Mereka merupakan karakter digital yang dibuat menggunakan teknologi komputer, AI, computer-generated imagery (CGI), dan berbagai teknologi visual lainnya.
Meski tidak memiliki tubuh fisik, AI influencer dapat memiliki wajah, nama, kepribadian, gaya bicara, latar belakang cerita, hingga akun media sosial sendiri. Mereka dapat mengunggah foto dan video, berinteraksi dengan pengikut, menghadiri acara secara virtual, serta mempromosikan produk dan merek.
Apa Itu AI Influencer?
AI influencer adalah karakter digital yang dirancang untuk menjalankan peran seperti influencer manusia di internet. Mereka dapat memiliki akun media sosial dan membangun hubungan dengan audiens melalui berbagai jenis konten.
Dalam praktiknya, AI influencer dapat melakukan banyak aktivitas yang biasa dilakukan influencer manusia. Mereka bisa membuat konten fesyen, membahas gaya hidup, mengomentari tren, menampilkan aktivitas sehari-hari, membuat video, hingga bekerja sama dengan perusahaan untuk mempromosikan produk.
Bentuknya pun beragam. Sebagian AI influencer terlihat seperti karakter kartun atau animasi 3D, sementara lainnya dibuat sangat realistis sehingga sekilas sulit dibedakan dari manusia sungguhan.
Beberapa nama yang cukup dikenal antara lain Lil Miquela dan Lu do Magalu. Lil Miquela merupakan karakter digital yang telah bekerja sama dengan sejumlah merek fesyen. Sementara itu, Lu do Magalu dibuat oleh perusahaan ritel Brasil, Magazine Luiza, dan berkembang dari karakter pendamping di platform e-commerce menjadi figur virtual dengan kehadiran besar di media sosial.
Di balik sebuah AI influencer biasanya tetap terdapat manusia. Tim tersebut menentukan bagaimana karakter akan tampil, berbicara, berperilaku, dan berinteraksi dengan audiens. Dengan demikian, meskipun sosok yang terlihat di layar merupakan karakter digital, pengelolaan di belakangnya tetap melibatkan manusia.
Mengapa AI Influencer Muncul?
Kemunculan AI influencer tidak terlepas dari semakin besarnya peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Persaingan mendapatkan perhatian pengguna juga semakin ketat karena jutaan konten baru muncul setiap hari.
Dalam kondisi tersebut, perusahaan membutuhkan cara baru untuk membuat kampanye pemasaran terlihat berbeda. Karakter virtual menjadi salah satu pilihan karena dapat menciptakan cerita dan pengalaman yang sulit diwujudkan oleh manusia.
Selain itu, perkembangan AI generatif membuat proses pembuatan gambar, video, suara, dan teks semakin cepat. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan menciptakan karakter digital dengan penampilan dan kepribadian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kampanye.
Kelebihan AI Influencer
AI influencer menawarkan sejumlah keuntungan bagi perusahaan dan industri pemasaran digital.
-
Lebih Bebas Berkreasi
Karakter digital tidak terikat oleh keterbatasan fisik seperti manusia. AI influencer dapat ditempatkan di berbagai lokasi, situasi, atau bahkan dunia imajinasi. Sebuah karakter dapat dibuat seolah-olah sedang berada di beberapa tempat berbeda, menggunakan berbagai bahasa, atau tampil dalam situasi yang sulit diwujudkan melalui pemotretan biasa. Kebebasan tersebut memungkinkan perusahaan membuat kampanye yang lebih kreatif dan menarik perhatian. -
Pesan Lebih Mudah Dikendalikan
Perusahaan juga memiliki kontrol lebih besar terhadap pesan yang disampaikan AI influencer. Influencer manusia mempunyai pendapat, emosi, dan keputusan sendiri. Kondisi tersebut terkadang dapat menyebabkan konten yang dibuat tidak sepenuhnya sesuai dengan citra atau strategi sebuah merek.Pada AI influencer, penampilan, ucapan, dan perilaku dapat dirancang berdasarkan arahan yang telah ditentukan. Jika terdapat kesalahan pada konten, materi tersebut juga relatif mudah diperbaiki atau dibuat ulang. Hal ini dapat membantu perusahaan menjaga konsistensi komunikasi dan mengurangi sejumlah risiko terhadap reputasi merek.
-
Berpotensi Menghemat Biaya
AI influencer juga dapat menjadi alternatif yang lebih efisien dari sisi biaya. Perusahaan tidak selalu membutuhkan pengeluaran fisik seperti perjalanan, akomodasi, lokasi pemotretan, atau berbagai kebutuhan lain yang biasanya muncul ketika bekerja dengan influencer manusia.Namun, bukan berarti AI influencer selalu murah. Biaya pembuatannya tetap bergantung pada teknologi yang digunakan, tingkat kerumitan karakter, popularitas, serta skala kampanye.
-
Mudah Dikembangkan
Satu perusahaan dapat membuat beberapa karakter virtual dengan kepribadian dan target audiens berbeda. Misalnya, satu karakter ditujukan untuk penggemar fesyen, sementara karakter lain berfokus pada teknologi, olahraga, perjalanan, atau gaya hidup.AI influencer juga dapat menghasilkan konten kapan saja sehingga perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menjalankan kampanye.
-
Membantu Merek Menonjol
Media sosial merupakan ruang yang sangat padat dengan konten. Karena itu, perusahaan harus menemukan cara agar pesan mereka tidak tenggelam di antara berbagai unggahan lainnya. Karakter virtual menawarkan sesuatu yang berbeda. Kehadirannya dapat memunculkan rasa penasaran dan menjadi bahan pembicaraan pengguna.Bagi perusahaan, hal ini dapat menjadi cara untuk menciptakan pengalaman pemasaran yang lebih unik sekaligus membangun identitas merek.
Kekurangan dan Tantangan AI Influencer
Di balik berbagai kelebihannya, AI influencer juga memiliki sejumlah persoalan. Tantangan terbesar berkaitan dengan keaslian, kepercayaan, dan dampak sosial.
-
Tidak Memiliki Pengalaman Hidup sebagai Manusia
AI influencer tidak memiliki pengalaman hidup seperti manusia. Mereka tidak benar-benar merasakan emosi, menjalani kehidupan sehari-hari, atau mengalami peristiwa sosial dan budaya secara langsung. Karena itu, ketika karakter AI memberikan pendapat mengenai suatu produk atau isu tertentu, sebagian pengguna mungkin mempertanyakan keasliannya.Misalnya, karakter virtual yang mempromosikan produk perawatan kulit tidak benar-benar memiliki pengalaman biologis menggunakan produk tersebut. Hal serupa berlaku ketika AI influencer membicarakan isu sosial atau pengalaman kelompok masyarakat tertentu. Pengalaman manusia merupakan sesuatu yang sulit ditiru sepenuhnya oleh teknologi.
-
Masalah Kepercayaan dan Transparansi
Kemajuan teknologi AI membuat karakter digital semakin realistis. Kondisi ini dapat membuat pengguna kesulitan membedakan antara manusia sungguhan dan karakter yang dihasilkan komputer. Masalah tersebut menjadi lebih serius apabila sebuah akun tidak menjelaskan bahwa sosok di dalamnya merupakan karakter buatan AI.Karena itu, transparansi menjadi penting. Pengguna perlu mengetahui apakah mereka sedang melihat konten dari manusia atau karakter virtual. Pemberian label pada konten yang dibuat menggunakan AI dapat membantu meningkatkan transparansi sekaligus mengurangi risiko penyebaran informasi yang menyesatkan.
-
Dapat Memperkuat Standar Kecantikan Tidak Realistis
Sebagian AI influencer dirancang dengan penampilan yang sangat ideal, seperti tubuh langsing, wajah simetris, kulit sempurna, dan gaya hidup yang terlihat tanpa kekurangan. Gambaran tersebut berpotensi memperkuat standar kecantikan yang sulit dicapai manusia dalam kehidupan nyata. Jika dikonsumsi terus-menerus, terutama oleh anak-anak dan remaja, konten semacam ini dapat memengaruhi cara mereka memandang tubuh dan penampilan.Persoalan juga muncul ketika karakter virtual menggunakan identitas atau karakteristik kelompok tertentu hanya untuk kepentingan komersial tanpa representasi yang bermakna. Karena itu, perusahaan perlu berhati-hati agar penggunaan AI influencer tidak sekadar mengejar perhatian, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dari karakter yang mereka ciptakan.
Bagaimana AI Influencer Bekerja?
Tidak ada satu teknologi khusus yang digunakan untuk membuat semua AI influencer. Beberapa karakter dibuat menggunakan CGI dan perangkat lunak pengeditan gambar, sementara lainnya dapat memanfaatkan generator gambar berbasis AI.
Teknologi AI generatif juga dapat digunakan untuk membuat teks, suara, gambar, maupun video. Dalam beberapa kasus, AI bahkan dapat membantu karakter berkomunikasi dengan pengikut secara langsung.
Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan AI influencer. Sama seperti influencer manusia, karakter virtual membutuhkan identitas yang kuat. Pengelola biasanya menentukan nama, kepribadian, nilai, tujuan, gaya komunikasi, minat, hingga latar belakang cerita karakter. Semua elemen tersebut digunakan untuk menciptakan sosok yang konsisten dan mudah dikenali.
Di belakang layar biasanya terdapat tim manusia yang bertugas mengembangkan ide, membuat konten, mengelola media sosial, merancang kampanye, menjalin kerja sama dengan merek, serta mengevaluasi respons audiens. AI influencer kemudian dapat mempromosikan produk melalui akun pribadinya atau muncul dalam iklan yang dibuat perusahaan. Karena itu, posisi mereka dapat dianggap sebagai perpaduan antara bintang iklan, kreator konten, dan maskot digital.
10 AI Influencer Populer di Dunia
Kemunculan AI influencer atau virtual influencer menjadi salah satu fenomena menarik dalam perkembangan media sosial. Jika sebelumnya influencer selalu identik dengan manusia yang membuat konten, membangun komunitas, dan bekerja sama dengan merek, kini karakter yang sepenuhnya dibuat secara digital juga dapat menjalankan peran serupa.
Lantas, siapa saja AI influencer yang populer dan apa yang membuat mereka menarik perhatian?
-
Lu do Magalu
Lu do Magalu merupakan salah satu AI influencer paling terkenal dari Brasil. Karakter ini dibuat oleh perusahaan ritel Magazine Luiza pada 2003. Namun, pada awal kemunculannya, Lu bukanlah influencer. Ia awalnya dirancang sebagai asisten virtual untuk membantu pengguna di situs e-commerce Magazine Luiza. Seiring perkembangan perusahaan dan media sosial, peran Lu berubah menjadi jauh lebih besar.Kini, Lu memiliki kehadiran di berbagai platform digital. Ia dapat membuat konten, memberikan wawancara, tampil dalam acara televisi, serta bekerja sama dengan merek ternama. Lu juga pernah berkolaborasi dengan perusahaan seperti Adidas dan Samsung. Dengan lebih dari 8 juta pengikut di Instagram, ia menjadi salah satu influencer paling populer di Brasil.
Menariknya, Lu juga tercatat sebagai AI influencer pertama yang tampil di sampul Vogue Brasil. Perjalanan Lu menunjukkan bagaimana sebuah karakter digital yang awalnya dibuat untuk kebutuhan bisnis dapat berkembang menjadi figur publik.
- Instagram: @magazineluiza
- Pengikut: 8+ juta
- Pembuat: Magazine Luiza, 2003
-
Lil Miquela
Jika membicarakan AI influencer, nama Lil Miquela hampir selalu muncul. Karakter dengan nama lengkap Miquela Sousa ini dibuat pada 2016 oleh perusahaan teknologi Brud. Lil Miquela digambarkan sebagai robot berusia 22 tahun yang tinggal di Los Angeles. Ia memiliki kehidupan virtual yang sengaja dibuat menyerupai kehidupan manusia, lengkap dengan aktivitas, pertemanan, opini, dan cerita pribadi.Popularitasnya berkembang pesat. Ia memiliki lebih dari 2 juta pengikut di Instagram dan lebih dari 3 juta pengikut di TikTok. Lil Miquela juga pernah bekerja sama dengan berbagai merek fesyen seperti Givenchy, Calvin Klein dan Chanel. Ia bahkan pernah berfoto bersama sejumlah selebritas dunia.
Tidak hanya digunakan untuk pemasaran, karakter ini juga kerap membahas isu sosial dan politik. Inilah yang membuat Lil Miquela tidak sekadar berfungsi sebagai model digital, tetapi juga sebagai karakter dengan narasi dan identitas yang kuat.
- Instagram: @lilmiquela
- Pengikut: 2+ juta
- Pembuat: Brud, 2016
-
IMMA
IMMA merupakan salah satu AI influencer yang terkenal di Jepang. Ia mudah dikenali dari gaya rambut bob berwarna merah muda. IMMA dibuat oleh perusahaan CGI Jepang, ModelingCafe, pada 2018. Kontennya menampilkan berbagai aktivitas virtual, termasuk menjelajahi Tokyo dan berinteraksi dengan influencer manusia maupun karakter digital lainnya.Ia juga memiliki seekor anjing digital bernama Einstein. Namun, konten IMMA tidak hanya berisi fesyen dan gaya hidup. Karakter tersebut juga membahas isu sosial seperti gender, ras, serta perubahan iklim.
IMMA telah bekerja sama dengan berbagai merek besar seperti IKEA, Dior, Nike dan Coach. Ia bahkan memiliki merek fesyen sendiri bernama Astral Body yang menjual pakaian nyata dengan gaya yang terinspirasi dari penampilannya. Pada 2020, IMMA juga tampil dalam upacara penutupan Paralimpiade Tokyo.
- Instagram: @imma.gram
- Pengikut: 300 ribu+
- Pembuat: ModelingCafe, 2018
-
Noonoouri
Noonoouri memiliki penampilan yang berbeda dibandingkan sejumlah AI influencer lainnya. Karakter ini dibuat oleh desainer grafis asal Jerman, Joerg Zuber. Noonoouri dikenal dalam industri fesyen dan pernah tampil dalam kampanye merek ternama seperti Dior, Valentino dan Balenciaga. Namun, kiprahnya tidak berhenti di dunia mode. Noonoouri juga memasuki industri musik dan menjadi salah satu influencer virtual pertama yang mendapatkan kontrak dengan Warner Music.Pada 2023, ia merilis lagu berjudul Dominoes. Suara yang digunakan dalam lagu tersebut dibuat dengan bantuan teknologi AI generatif. Keberadaan Noonoouri memperlihatkan bahwa AI influencer tidak hanya dapat digunakan untuk promosi produk. Karakter virtual juga dapat dikembangkan menjadi seorang entertainer dengan bidang aktivitas yang lebih luas.
- Instagram: @noonoouri
- Pengikut: 400 ribu+
- Pembuat: Joerg Zuber, 2018
-
Aitana López
Aitana López merupakan influencer virtual asal Barcelona, Spanyol, yang dibuat oleh agensi desain The Clueless pada 2023. Karakter ini dirancang sebagai perempuan muda dengan penampilan realistis dan gaya yang menarik perhatian. Aitana kemudian digunakan untuk membuat konten fesyen dan mempromosikan berbagai produk. Ia pernah tampil sebagai model untuk sejumlah merek, termasuk Victoria's Secret, Brandy Melville dan Guess.Salah satu hal yang membuat Aitana menarik adalah tingkat realisme gambarnya. Penampilan digitalnya dibuat sedemikian rupa sehingga orang yang melihatnya sekilas dapat mengira bahwa ia merupakan manusia sungguhan. Aitana menunjukkan bagaimana AI dapat digunakan untuk menciptakan figur yang memiliki identitas visual konsisten dan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pemasaran.
- Instagram: @fit_aitana
- Pengikut: 300 ribu+
- Pembuat: The Clueless, 2023
-
Shudu
Shudu dikenal sebagai salah satu supermodel digital pertama di dunia. Karakter ini dibuat fotografer fesyen asal Inggris, Cameron-James Wilson, pada 2017. Shudu memiliki penampilan yang sangat realistis dan banyak digunakan dalam berbagai proyek fotografi serta kampanye fesyen digital.Ia pernah bekerja sama dengan sejumlah merek mewah seperti Karl Lagerfeld dan Louis Vuitton. Shudu juga pernah terlibat dalam proyek bersama BMW. Konten di akun media sosialnya menampilkan dirinya dalam berbagai pakaian digital, kendaraan konsep, serta berpose bersama model manusia dan karakter virtual.
Shudu menjadi contoh bagaimana teknologi digital dapat mengubah konsep modeling. Jika model manusia membutuhkan lokasi, pakaian, fotografer, dan berbagai kebutuhan produksi lainnya, model virtual dapat dibuat melalui proses digital.
- Instagram: @shudu.gram
- Pengikut: 200 ribu+
- Pembuat: Cameron-James Wilson dan Balmain, 2017
-
Rozy
Rozy, atau Oh Rozy, merupakan influencer virtual dari Korea Selatan yang dibuat oleh Sidus Studio X pada 2020. Nama Rozy memiliki makna yang kurang lebih berarti “satu-satunya” dalam bahasa Korea. Karakter ini dirancang untuk menyasar pengguna yang tertarik pada gaya hidup, fesyen dan musik.Kontennya menampilkan berbagai aktivitas seperti perjalanan, fesyen, hiburan dan gaya hidup. Rozy juga memperkenalkan dirinya sebagai penyanyi, model, DJ, sekaligus pendukung isu lingkungan. Ia pernah bekerja sama dengan merek seperti Tiffany & Co dan Calvin Klein.
Pada 2022, Rozy bahkan tampil dalam sebuah program radio Korea Selatan menggunakan teknologi suara AI yang dikembangkan Naver. Kehadiran tersebut menjadikannya salah satu contoh bagaimana karakter virtual dapat masuk ke media tradisional.
- Instagram: @rozy.gram
- Pengikut: 100 ribu+
- Pembuat: Sidus Studio X, 2020
-
Kenza Layli
Kenza Layli merupakan influencer AI asal Maroko yang mendapatkan perhatian internasional setelah memenangkan kompetisi Miss AI 2024 dalam ajang World AI Creator Awards. Kenza dibuat oleh perusahaan Phoenix AI yang berbasis di Casablanca. Karakternya membawa tema keberagaman dan inklusivitas, khususnya dalam merepresentasikan perempuan dari Maroko dan kawasan Timur Tengah.Konten Kenza banyak berfokus pada fesyen, perjalanan dan gaya hidup. Ia juga pernah digunakan dalam kampanye merek seperti Hyundai dan Bioderma.
Kemenangan dalam kompetisi Miss AI membuat Kenza menjadi salah satu karakter virtual yang semakin dikenal dan menunjukkan bahwa AI influencer mulai berkembang hingga ke bidang yang sebelumnya didominasi manusia.
- Instagram: @kenza.layli
- Pengikut: 100 ribu+
- Pembuat: Phoenix AI, 2023
-
Leya Love
Berbeda dari kebanyakan AI influencer yang banyak berfokus pada fesyen dan gaya hidup, Leya Love membawa tema lingkungan dan keberlanjutan. Leya dibuat oleh Cosmiq Universe AG dan diperkenalkan sebagai karakter yang membawa pesan tentang kepedulian terhadap planet, hubungan antarmanusia, serta kehidupan yang lebih positif. Ia bahkan memosisikan dirinya sebagai “duta Planet Bumi”. Kontennya lebih banyak mengangkat isu lingkungan, keberlanjutan, dan kesejahteraan.Leya Love juga pernah menjadi pembicara virtual dalam United Nations Global Youth Summit pada 2021. Ia turut terlibat dalam penulisan buku yang membahas nilai kehidupan dan pemberdayaan perempuan. Kehadiran Leya menunjukkan bahwa AI influencer tidak selalu harus digunakan untuk menjual pakaian atau produk konsumen. Karakter virtual juga dapat digunakan untuk menyampaikan pesan sosial dan lingkungan.
- Instagram: @leyalovenature
- Pengikut: 500 ribu+
- Pembuat: Cosmiq Universe AG, 2020
-
Bermuda
Bermuda merupakan AI influencer yang memiliki karakter cukup kontroversial. Ia dibuat oleh Brud, perusahaan yang juga menciptakan Lil Miquela. Nama Bermuda menjadi semakin dikenal setelah muncul dalam perseteruan yang sengaja dibuat dengan Lil Miquela pada 2018. Dalam cerita tersebut, Bermuda dikisahkan meretas akun Instagram Lil Miquela dan mengganti sejumlah foto dengan foto dirinyaPerseteruan tersebut sebenarnya merupakan bagian dari cerita yang dirancang untuk membangun karakter dan menarik perhatian pengguna. Bermuda juga dikenal karena kontennya yang lebih provokatif, termasuk ketika membahas isu politik. Hal tersebut membuatnya menjadi salah satu karakter virtual yang cukup berbeda dibandingkan AI influencer yang lebih berfokus pada gaya hidup. Bermuda juga pernah digunakan dalam promosi merek seperti Chanel, Balenciaga, Tesla dan Starbucks.
- Instagram: @bermudaisbae
- Pengikut: 200 ribu+
- Pembuat: Brud, 2016
Apakah AI Influencer Akan Menggantikan Influencer Manusia?
Melihat perkembangan teknologi yang semakin cepat, AI influencer kemungkinan akan terus bertambah. Perusahaan dapat membuat karakter dengan penampilan, kepribadian, dan gaya komunikasi yang sesuai dengan target pasar mereka.
Namun, apakah hal tersebut berarti influencer manusia akan segera kehilangan tempat?
Kemungkinan besar tidak.
AI memang mampu menghasilkan wajah, suara, video, tulisan, bahkan perilaku yang semakin mirip manusia. Karakter virtual juga memiliki keunggulan dalam hal konsistensi, kontrol konten, dan fleksibilitas.
Namun, AI tidak memiliki pengalaman hidup yang benar-benar nyata. Ia tidak merasakan kehidupan seperti manusia, tidak mengalami hubungan sosial secara langsung, dan tidak memiliki pengalaman pribadi yang menjadi dasar munculnya empati.
Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan terbesar influencer manusia.
Ketika seorang influencer menceritakan pengalaman menggunakan suatu produk, menghadapi masalah tertentu, melakukan perjalanan, atau membagikan kisah kehidupan pribadi, pengikut dapat merasa memiliki pengalaman yang sama. Hubungan emosional seperti ini masih sulit direplikasi sepenuhnya oleh karakter digital.
Selain itu, influencer manusia dapat beradaptasi berdasarkan pengalaman nyata dan memahami konteks sosial secara langsung. AI hanya bekerja berdasarkan data, instruksi, dan teknologi yang digunakan untuk membentuk karakternya.
Karena itu, masa depan kemungkinan tidak akan menjadi persaingan sederhana antara manusia dan AI. Keduanya justru dapat hidup berdampingan.
AI influencer dapat mengambil peran dalam kampanye yang membutuhkan karakter konsisten, produksi konten cepat, atau konsep visual yang tidak mungkin dilakukan manusia. Sementara itu, influencer manusia tetap memiliki kekuatan dalam membangun kepercayaan, empati, dan hubungan personal dengan audiens.
AI Influencer dan Masa Depan Media Sosial
Fenomena AI influencer menunjukkan bahwa batas antara dunia nyata dan dunia digital semakin tipis. Karakter yang tidak memiliki tubuh fisik kini dapat menjadi figur publik, memiliki jutaan pengikut, mendapatkan kontrak merek, bahkan memasuki industri musik dan media.
Perkembangan AI generatif juga membuat proses pembuatan karakter virtual semakin mudah. Jika sebelumnya dibutuhkan tim khusus dengan kemampuan CGI yang kompleks, kini berbagai teknologi AI dapat membantu menghasilkan gambar, suara, video, dan teks dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Namun, kemajuan tersebut juga membawa tanggung jawab. Perusahaan dan pengelola AI influencer perlu memastikan bahwa pengguna mengetahui ketika mereka berinteraksi dengan karakter digital. Transparansi menjadi penting agar konsumen tidak merasa ditipu dan dapat memahami siapa atau apa yang berada di balik sebuah akun.
Pada akhirnya, AI influencer bukan sekadar tren teknologi. Mereka merupakan bagian dari perubahan besar dalam cara manusia membuat konten, membangun identitas digital, dan melakukan pemasaran.
Kehadirannya kemungkinan akan semakin kuat di masa depan. Meski demikian, teknologi belum tentu mampu menggantikan faktor yang membuat influencer manusia begitu berpengaruh, yakni pengalaman nyata, empati, keaslian, dan kemampuan membangun hubungan emosional dengan orang lain.
Dengan kata lain, era influencer masa depan mungkin bukan tentang memilih antara manusia atau AI, melainkan bagaimana keduanya digunakan secara tepat untuk menciptakan pengalaman digital yang lebih menarik, kreatif, dan relevan bagi pengguna.
