Waspada! Modus Penipuan Online Kini Berkedok Drama China


Ilustrasi Penipuan Online

Ilustrasi Penipuan Online

Menonton drama China kini bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga dimanfaatkan pelaku kejahatan siber sebagai pintu masuk penipuan online. Modus yang digunakan semakin beragam, mulai dari menawarkan komisi setelah menonton film hingga investasi palsu yang menjanjikan keuntungan besar. Agar tidak menjadi korban, masyarakat perlu mengenali pola penipuan dan memahami cara melindungi diri.

Peringatan mengenai modus tersebut disampaikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) setelah menerima banyak laporan mengenai aktivitas keuangan ilegal. Sepanjang 1 Januari hingga 20 Mei 2026, OJK mencatat 17.105 pengaduan terkait entitas ilegal.

Salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku adalah situs streaming drama China. Pelaku dapat menggunakan popularitas tayangan tersebut untuk menarik calon korban dengan berbagai iming-iming, terutama uang atau komisi.

 

Kenali Lima Modus Penipuan yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan data Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) per Mei 2026, terdapat sejumlah modus penipuan digital baru yang perlu menjadi perhatian masyarakat.

  1. Tugas Menonton Drama
    Modus ini menawarkan pekerjaan sederhana berupa menonton drama atau film. Korban biasanya dijanjikan komisi setelah menyelesaikan sejumlah tugas. Pada tahap awal, pelaku mungkin memberikan komisi kecil untuk membangun kepercayaan. Setelah korban merasa skema tersebut benar-benar menghasilkan uang, pelaku dapat meminta pembayaran, deposit, atau biaya tertentu dengan alasan untuk mendapatkan komisi yang lebih besar.Ada pula modus yang menawarkan pembelian hak cipta film fiktif dengan iming-iming keuntungan. Padahal, proyek atau hak cipta yang ditawarkan sebenarnya tidak ada.
  2. Lowongan Kerja dengan Modus Impersonation
    Pelaku juga dapat mencatut nama atau identitas perusahaan dan pihak tertentu untuk membuat lowongan kerja palsu. Korban kemudian ditawari pekerjaan seperti menonton iklan berbayar atau ikut membiayai proyek tertentu.Agar terlihat meyakinkan, pelaku dapat menggunakan logo perusahaan, identitas pegawai, dokumen, hingga akun media sosial yang dibuat menyerupai milik pihak resmi.

    Karena itu, jangan langsung percaya hanya karena sebuah lowongan mencantumkan nama perusahaan terkenal. Periksa kembali informasi melalui kanal resmi perusahaan sebelum memberikan data pribadi atau mengirimkan uang.

  3. Deposit di E-Commerce Palsu
    Modus berikutnya menggunakan platform belanja online palsu. Korban diminta membuat akun, menjalankan sejumlah transaksi, kemudian menyetorkan deposit dengan janji mendapatkan bonus. Pada awalnya, sistem mungkin terlihat seperti platform e-commerce biasa. Namun, uang yang telah disetorkan dapat sulit dicairkan. Pelaku kemudian meminta korban membayar biaya tambahan dengan berbagai alasan agar saldo atau bonus bisa ditarik.

    Prinsip pentingnya, jangan pernah mengirimkan deposit hanya karena dijanjikan bonus besar. Pastikan platform yang digunakan benar-benar resmi dan memiliki reputasi yang dapat diverifikasi.

  4. Investasi Saham IPO Palsu
    Investasi juga menjadi sasaran pelaku penipuan. Salah satunya melalui penawaran saham IPO palsu yang diklaim berasal dari pihak asing. Korban dapat diyakinkan bahwa investasi tersebut merupakan kesempatan terbatas dengan potensi keuntungan tinggi. Dalam beberapa kasus, pelaku juga menggunakan informasi pasar atau istilah finansial agar penawarannya terlihat profesional.

    Sebelum berinvestasi, masyarakat perlu memastikan legalitas pihak yang menawarkan investasi dan tidak mudah tergiur keuntungan yang tidak masuk akal.

  5. Copy Trading Kripto Bodong
    Modus lainnya adalah penipuan aset kripto dengan kedok copy trading. Korban ditawarkan kesempatan menyalin strategi perdagangan dari seorang "ahli" dengan klaim mampu menghasilkan keuntungan secara otomatis.

    Masalahnya, platform atau layanan yang ditawarkan bisa saja ilegal. Data keuntungan yang ditampilkan juga dapat direkayasa untuk membuat korban terus menambah modal.

    Jangan menganggap investasi aman hanya karena pelaku menampilkan grafik keuntungan, testimoni, atau sosok yang mengaku sebagai trader profesional. Legalitas layanan tetap harus menjadi pemeriksaan pertama.

 

Tips Agar Tidak Terjebak

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk menghindari modus penipuan tersebut.

Pertama, jangan mudah percaya pada tawaran uang cepat. Pekerjaan menonton video atau investasi yang menjanjikan penghasilan besar dengan usaha minimal patut dicurigai.

Kedua, jangan mengirimkan uang untuk mendapatkan uang. Permintaan deposit, biaya administrasi, pajak, atau pembayaran lain sebagai syarat pencairan komisi merupakan tanda bahaya yang perlu diperhatikan.

Ketiga, periksa identitas dan legalitas pihak yang menawarkan. Jangan hanya mengandalkan informasi dari WhatsApp, Telegram, media sosial, atau situs yang diberikan pelaku.

Keempat, jangan sembarangan memberikan data pribadi. Informasi seperti nomor identitas, data rekening, kode OTP, kata sandi, dan informasi keuangan dapat dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan lanjutan.

Kelima, jangan tergesa-gesa mengambil keputusan. Penipu biasanya menciptakan tekanan dengan mengatakan kesempatan hanya tersedia dalam waktu tertentu. Justru kondisi seperti ini seharusnya menjadi alasan untuk berhenti dan melakukan verifikasi.

 

OJK Lakukan Pemblokiran

OJK bersama Satgas PASTI telah mengambil tindakan terhadap berbagai aktivitas ilegal yang dinilai berpotensi merugikan masyarakat. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui pemblokiran situs dan aplikasi yang berkaitan dengan aktivitas keuangan ilegal.

OJK juga menjatuhkan sanksi administratif kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) yang melanggar ketentuan perlindungan konsumen. Sanksi tersebut mencakup 48 peringatan tertulis kepada 44 PUJK, lima instruksi tertulis kepada lima PUJK, serta 17 sanksi denda kepada 15 PUJK.

Hingga pertengahan Mei 2026, Satgas PASTI juga telah menghentikan operasional 951 entitas pinjaman online (pinjol) ilegal, delapan penawaran investasi ilegal, dan satu aktivitas keuangan ilegal lainnya.

Maraknya modus penipuan berkedok drama China menunjukkan bahwa pelaku kejahatan terus mencari cara baru untuk mendekati calon korban. Popularitas hiburan, lowongan kerja, e-commerce, hingga investasi dapat dimanfaatkan sebagai kedok.

Karena itu, kunci utama perlindungan bukan hanya mengandalkan pemblokiran dari regulator, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan pribadi. Jika sebuah tawaran meminta uang terlebih dahulu dengan iming-iming komisi atau keuntungan besar, jangan terburu-buru percaya. Periksa legalitasnya, lakukan verifikasi melalui kanal resmi, dan hentikan komunikasi jika terdapat tanda-tanda mencurigakan.

Bagikan artikel ini

Komentar ()

Video Terkait